Minggu, 29 Juli 2018

Ustad dan Tiga Pemuda


Pak Andi tinggal di sebuah desa kecil yang kaya akan hasil bumi dan peternakan. Seperti layaknya penduduk Desa Ciherang lainnya, ia pun memiliki sawah garapan dan hewan ternak. Sayangnya, usia yang renta tak bersahabat dengan semangat hidupnya. Sakit karena tua mulai menghambat kesibukannya. Sadar takdir tak dapat diramal, ia pun berencana membagi warisan pada tiga anaknya.

Dwi, Dhio dan Alvi adalah tiga putra kebanggaannya. Dan bapak tua itu ingin membagi tujuh dombanya dengan rata kepada mereka. Tujuh domba dengan milyaran kebijaksanaan yang ia selipkan di dalamnya. Suatu hari, diujung napasnya bapak tua itu memanggil ketiga anaknya.

"Ujang kadarieu sakedap," panggil Pak Andi. Suaranya putus-putus hampir tenggelam disuara serangga malam.

Sontak ketiga pemuda itu beranjak dari tikar anyaman. Mendekati Pak Andi yang sedang bergumul dengan sakaratul maut.

"Aya naon bapa?" sahut Dwi pelan. Didekatkannya bibirnya ke telinga ayahnya itu.

Dhio dan Alvi duduk bersimpuh mengelilingi pembaringan ayah mereka. Dengan khidmat bersiap mendengarkan amanat Pak Andi.

Pak Andi berusaha mengumpulkan napasnya. "Bapa tidak punya apa-apa. Sawah kalian garap sama-sama, hasilnya harus dibagi rata."

Dwi sebagai anak tertua mencatat amanat ayahnya itu diingatannya.

"Domba oge ngan aya tujuh," lanjut Pak Andi, "Bagi adilnya Dwi ... setengah untukmu, seperempat untuk Dhio dan seperdelapan untuk Alvi."

Kening ketiga pemuda itu berkerut ketika  mendengar kata 'bagi adilnya Dwi'. Sedangkan domba-domba itu berjumlah ganjil. Sayangnya mereka tak sempat bertanya. Ayah mereka menghembuskan napas terakhir bertepatan dengan adzan awal.

Sepeninggal Pak Andi, ketiga pemuda itu jadi sering bersitegang. Mereka kukuh dengan pendapat masing-masing.

"Kita jual saja ketujuh domba itu. Hasilnya baru kita bagi sesuai amanat bapa!" tandas Dhio.

"Aku tak setuju!" tukas Alvi, "Amanat bapa membagi domba bukan membagi uang!"

Dwi sebagai anak tertua berusaha memberikan saran terbaik. "Kita biarkan saja domba-domba itu beranak hingga berjumlah genap," ujarnya kemudian.

"Itu terlalu lama!!" seru Dhio dan Alvi bersamaan. Mereka tak setuju dengan saran Dwi.

Percekcokan itu jadi hiburan baru bagi penduduk Desa Ciherang. Mereka pun sama bingungnya dengan ketiga pemuda itu.

Hingga suatu hari lewatlah seorang ustad dan muridnya ke desa itu. Mereka berdua pengembara yang bermaksud beristirahat sejenak di desa yang sejuk itu. Ustad Dirsya terkenal dengan kebijaksanaannya. Sedangkan muridnya Saivul, seorang pemuda lugu yang sangat taat beribadah.

Penduduk desa menyambut kedua pengembara itu dengan ramah. Bahkan tetua desa meminta sang ustad untuk menasehati ketiga pemuda yang bersiteru terus itu. Tetua desa yakin dengan kebijaksanaan yang dimiliki Ustad Dirsya, masalah tujuh domba ini bisa diselesaikan. Dan Desa Ciherang akan kembali tenang tanpa suara-suara cekcok.

Ustad Dirsya menyanggupi permintaan tetua desa. Setelah cukup beristirahat, ia dan muridnya pergi mendatangi kediaman almarhum Pak Andi. Di tempat itu ia mendapati ketiga putra Pak Andi sedang bersitegang di dekat kandang domba.

"Assalammu'alaikum!" ustad Dirsya mengucapkan salam.

Dwi, Dhio dan Alvi dengan gugup menjawab salam Ustad Dirsya. Rupanya kemunculan tiba-tiba guru dan murid itu membuat mereka terkejut.

"Punteun, bapak siapa yah?" Dwi spontan bertanya mewakili kedua saudaranya.

"Panggil saja pa ustad!" jawab Ustad Dirsya. Suaranya yang dalam membuat ketiga pemuda itu tak berani bertanya lagi.

"Saya diminta tetua desa datang kemari. Katanya kalian kesulitan membagi warisan karena berjumlah ganjil." ucap Ustad Dirsya melanjutkan.

Ketiga pemuda itu kemudian berebutan menceritakan amanat ayah mereka. Ketujuh domba itu benar-benar membuat mereka pusing.

Ustad Dirsya tersenyum-senyum mendengar cerita mereka. Sedangkan Saivul muridnya terlihat sama bingungnya dengan ketiga pemuda itu. Keluguannya tak mampu mencerna pesan sesungguhnya dari Pak Andi.

"Sok sekarang ikat ketujuh domba itu di pagar bambu!" Ustad Dirsya memerintah sambil menunjuk pagar yang membatasi rumah Pak Andi dengan tetangganya.

Ketiga pemuda itu pun menuruti perintahnya tanpa banyak tanya.

"Sok ikat juga si Saivul!" perintah pak ustad itu lagi.

"Abdi??" Saivul menunjuk dirinya sendiri dengan heran.

Ustad Dirsya mengangguk tegas. Lagi-lagi ketiga pemuda itu menuruti perintahnya. Sekarang yang terikat di pagar bambu itu tujuh ekor domba ditambah satu orang Saivul. Bila dijumlahkan jadi genap delapan.

"Sok Dwi ambil setengah bagianmu!" perintah pak ustad.

Dwi bergegas mengambil empat ekor domba.

"Ayeuna kamu Dhio. Ambil seperempat bagianmu!"

Dengan sigap Dhio mengambil dua ekor domba.

"Tah Alvi ambil seperdelapan bagianmu!"

Setengah berlari Alvi menuju pagar bambu. Kemudian dia membawa seekor domba.

"Nah, sekarang kalian masing-masing sudah mendapat bagian kan?" Ustad Dirsya bertanya dengan nada menggoda.

Ketiga pemuda itu mengangguk sambil berusaha mencerna apa yang terjadi.

"Pa ustaaad ... abdi kumaha ieu teh?" Saivul memanggil-manggil dengan putus asa.

"Kadieu atuh! Sayang kamu bukan domba jadi tak ada yang memilihmu hahaha," Ustad Dirsya terbahak menyaksikan Saivul yang berusaha membuka ikatannya.

Ustad Dirsya mendapatkan penghormatan yang setinggi-tingginya dari tetua dan penduduk Desa Ciherang. Mereka kemudian mengantar kepergian ustad dan murid pengembara itu keesokan harinya. Desa Ciherang pun kembali tenang seperti sediakala.

Sementara itu Saivul yang lugu masih tak paham dengan apa yang terjadi. Sepanjang perjalanan tak hentinya jari-jarinya menghitung jumlah pembagian domba.

"Ustad, kenapa atuh saya diikat kalau ternyata jumlah yang dibagi itu tetap tujuh?" protesnya kemudian.

"Hahaha mungkin sudah takdirmu merasakan terikat seperti domba!" Ustad Dirsya tertawa.

"Seringkali karena nafsu kita tak bisa menilai sesuatu dengan pikiran jernih." ucapnya kemudian.

Saivul berusaha keras memecahkan kebijaksanaan terselubung itu. Keluguannya tak mampu merangkai makna sebenarnya dari kejadian kemarin. Yang ia pahami, sebenarnya tidak ada masalah yang patut dipermasalahkan dari pembagian domba itu.

Dan di sebuah teras tampak tiga orang pemuda yang sedang termenung. Kopi-kopi hitam mendingin di udara sore desa. Mereka terdiam, memaknai percekcokan mereka yang sia-sia. Karena sebenarnya mereka telah memikirkan yang tak perlu dipikirkan. Dan meributkan hal yang tak perlu diributkan. Semuanya tampak sederhana sekarang, karena ketiga pemuda itu telah merubah sudut pandang mereka, jadi lebih sederhana.

   ***********************

Ujang kadarieu sakedap! = anak-anakku kemarilah!

Aya naon bapa? = ada apa bapa?

Domba oge ngan aya tujuh = domba juga cuma ada tujuh

Abdi kumaha ieu teh? = saya gimana nih?

Kadieu atuh! = kesini!