Tampilkan postingan dengan label DONGENG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DONGENG. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Oktober 2018

Putri Tujuh



Cerita Rakyat Dari Provinsi Riau
Putri Tujuh
Oleh : Yola Widya

Dahulu kala, di Provinsi Riau ada sebuah kerajaan yang bernama Sri Bunga Tanjung. Kerajaan itu di pimpin seorang ratu. Ratu Cik Sima memiliki tujuh orang putri yang sangat terkenal kecantikannya. Putri tujuh adalah kebanggaan Kerajaan Sri Bunga Tanjung. Adapun yang paling terkenal kemolekannya adalah putri bungsu yang bernama Mayang Sari. Putri Mayang Sari di beri julukan Mayang Mengurai oleh rakyatnya. Karena selain cantik, ia juga memiliki rambut indah yang panjang terurai.

Pada suatu hari, Pangeran Empang Kuala melewati daerah kerajaan Sri Bunga Tanjung. Karena lelah, ia dan rombongannya bermaksud istirahat sejenak di sungai. Alangkah terkejutnya sang pangeran ketika mengetahui ada tujuh putri yang sedang berendam di lubuk Sarang Umai. Terdengar senda gurau mereka olehnya. Diam-diam ia mengamati putri yang paling cantik. Yang tak lain adalah Putri Mayang Mengurai.

"Putri cantik di Lubuk Umai ... ," gumamnya, "di Umai ... di Umai ... di Umai."

Demikian sang pangeran berkali-kali menyebut "di Umai". Rupanya ia telah telah jatuh cinta pada Putri Mayang Mengurai.

Minggu, 19 Agustus 2018

DAMPU AWANG



           Dampu Awang terkenal karena kepiawaiannya sebagai pelaut. Dia pun seorang pedagang yang handal. Karena kehebatannya itu, Dampu Awang diberi penghargaan oleh kaisar China. Salah satunya, diperkenankannya dia untuk berlayar dan berniaga ke negara lain. Kemudian diceritakan Dampu Awang mendatangi Lasem untuk berniaga. Daerah perniagaannya di sekitar Pelabuhan Lasem.
            Kedatangannya disambut baik oleh penduduk Lasem. Terlebih lagi karena keramahan Dampu Awang yang disukai oleh mereka. Dampu Awang  tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Sekali lagi dia membuktikan kehebatannya. Tidak membutuhkan waktu lama bagi dirinya untuk menjadi sukses dan menguasai  perdagangan Lasem.
            Lambat laun sikap Dampu Awang berubah. Kekayaan dan kesuksesan telah membuatnya sombong. Dia pun memperlakukan para pedagang kecil dengan semena-mena. Rupanya kelakuan Dampu Awang itu sampai  ke telinga Sunan Bonang. Lasem pada saat itu terkenal sebagai daerah yang religius. Dan Sunan Bonang adalah orang yang dituakan pada waktu itu.
            Karena banyak yang mengeluh akan kelakuan Dampu Awang, akhirnya Sunan Bonang memutuskan untuk mendatangi Dampu Awang. Dia membawa serta beberapa orang santrinya. Sunan Bonang akhirnya sampai  di kediaman Dampu Awang yang megah. Kedatangannya  disambut dua pengawal gerbang yang  tak ramah.
“Siapa kalian berani-beraninya mendatangi tempat ini?!” seru seorang pengawal.
Pengawal  yang lain pun menghina Sunan Bonang dan para santrinya. “Rakyat biasa tak diizinkan masuk ke dalam!!”
Para santri sangat marah dengan kelakuan kedua pengawal yang sombong. “Apa kalian tak kenal orang yang dituakan di  Lasem ini?” seorang santri membalas  dengan garang.
Kedua pengawal itu terkejut dengan sikap para santri yang seolah  siap berperang. Akhirnya salah seorang pengawal masuk untuk memberitahu majikannya. Dampu Awang sangat heran ketika mengetahui tamunya adalah Sunan Bonang. Dia pun memerintahkan kedua pengawalnya untuk mengizinkan mereka masuk.
“Wahai yang dituakan, apa gerangan maksud kedatanganmu ini?” Dampu Awang meyambut para tamunya dengan basa-basi.
Sunan Bonang tak ingin berbicara yang tak perlu. Dia langsung ke pokok permasalahan. “Wahai Dampu Awang, aku banyak menerima keluhan dari penduduk Lasem. Kelakuanmu yang semena-mena telah  membuat mereka  tersinggung!”
Dampu Awang memukul lengan kursinya. “Apa maksudnya ini?”
“Kau telah berlaku tidak baik pada para pedagang kecil di  Lasem!” Sunan Bonang kembali  menegaskan perkataannya.
“Kurang ajar! Mereka berkata hal yang tidak benar!” Dampu Awang rupanya tersinggung dengan kenyataan yang didengarnya.
“Pengawal usir mereka!!”
Para santri Sunan Bonang langsung bersiaga.”Hei Dampu Awang, jangan sombong kau! Kalian adalah pendatang, kami berhak  mengusir kalian kapan saja!”
Dampu Awang semakin marah mendengar perkataan para santri. Sontak pedagang itu bangkit dari kursinya. “Tak perlu  mengusirku! Kalau guru kalian itu bisa mengalahkanku, dengan senang hati aku akan pergi dari sini!” serunya lagi.
            Sunan Bonang sebenarnya tak ingin bertarung. Namun demi mempertahankan kehormatan Lasem dia pun terpaksa menerima tantangan itu. Kemudian sunan pun menceritakan kejadian di kediaman Dampu  Awang pada santri-santrinya yang lain. Ternyata mereka bersemangat  untuk ikut membela Lasem. Mereka bertekad untuk mengusir Dampu Awang.
            Keesokan pagi, kapal-kapal besar Dampu Awang mulai berlabuh di pantai Bonang dekat pondok Sunan Bonang. Mereka bersenjatakan lengkap. Sedangkan Sunan Bonang dan para santrinya mengenakan sorban putih dan memegang tasbih. Pasukan Dampu Awang memandang remeh Sunan Bonang dan para santrinya. Mereka kemudian dengan semena-mena menembakkan meriam pada pasukan bersorban itu. Santri Sunan Bonang banyak yang meninggal karenanya.
            Namun para santri itu pantang menyerah. Akhirnya mereka malah berhasil naik ke kapal-kapal besar itu. Pertempuran semakin hebat karena ternyata para santri itu petarung yang terlatih. Sementara itu, Dampu Awang yang melihat kapalnya  berhasil diambil alih jadi sangat marah. Dia kemudian mengeluarkan seluruh kesaktiannya untuk menyerang Sunan Bonang. Kesaktian mereka  berdua ternyata seimbang. Langit Lasem terhalang oleh jurus-jurus sakti mereka ketika berperang di  udara.
            Kemudian pada satu kesempatan Dampu Awang turun ke kapalnya. Rupanya ia ingin membantu pasukannya yang mulai terdesak oleh para santri. Sunan Bonang yang melihat lawannya terbang turun langsung merubah siasatnya. Dia pun terbang ke atas bukit Bonang. Dari atas bukit, Sunan mengerahkan seluruh kesaktiannya untuk menghancurkan kapal. Kapal besar itu pun hancur dihantam ajian Sunan Bonang. Puing-puingnya berhamburan hingga ke Rembang.
            Sunan Bonang menyadari kesaktiannya berimbang dengan Dampu Awang. Akhirnya dia pun mengusulkan cara lain.
“Hei Dampu Awang! Tampaknya pertarungan ini tak akan ada akhirnya. Sekarang lihatlah jangkar kapal yang hancur itu! Jika kau berhasil membuatnya tenggelam maka kau yang  menang. Sebaliknya bila aku berhasil membuatnya terapung, maka aku yang menang.”
“Bodoh sekali dirimu membuat taruhan yang semudah itu!” Dampu Awang tertawa meremehkan Sunan Bonang.
Kemudian dia mengerahkan ajiannya sambil meneriakkan kata “kerem” yang artinya tenggelam. Sementara Sunan Bonang meneriakkan kata “kemambang” yang berarti terapung. Terus seperti itu hingga jangkar turun naik dengan cepat akibat ajian dari keduanya. Sampai akhirnya jangkar itu “kemambang”. Walaupun Dampu Awang meneriakkan “kerem” berkali-kali, tetap saja benda itu terapung.
            Akhirnya Dampu Awang mengakui kekalahannya. Dia dan pasukannya keluar dari Lasem menuju Semarang. Sunan Bonang kemudian menamai tempatnya bertarung “Rembang”. Sebagai tanda mengenang peristiwa “kerem” dan “kemambang” jangkar kapal. Adapun puing-puing kapal yang berhamburan kelak dikenang dengan nama-nama tertentu. Layarnya yang membatu dinamai Bukit Layar. Tiangnya menancap dekat pasujudan Sunan Bonang. Adapun lambungnya tengkurap dan dinamai Gunung Bujel.
***

Minggu, 22 Juli 2018

ASAL MULA SELAT BALI


             Diceritakan tinggallah seorang resi di perbatasan Banyuwangi dan Bali. Resi Begawan dikenal oleh penduduk di sana karena kesaktiannya. Sayangnya ia memiliki seorang putra yang bertabiat buruk. Padahal sang resi dan istrinya telah berusaha mendidik putra mereka sebaik mungkin. Manik Angkeran sangat gemar berjudi. Hampir setiap hari ia mengadu ayam  dengan taruhan uang. Dan bukan hal yang aneh jika terdengar keributan dari tempat tinggal Resi Begawan. Manik Angkeran selalu meminta ayahnya membayar hutang ketika dirinya kalah berjudi.
“Tak bosannya Kau merepotkan orang tua!”  Resi Begawan berkacak pinggang. Wajahnya terlihat sangat marah.
Manik Angkeran berlutut, “Sekali ini lagi saja Ayah. Aku berjanji takkan berjudi lagi!”
Resi Begawan dan istrinya sangat kesal dengan kelakuannya. Walaupun telah dinasehati, Manik Angkeran selalu mengulangi kesalahan yang sama.
Sang Resi menatap putranya dengan kecewa, “Aku sangat malu dengan kelakuanmu! Baiklah sekali ini lagi saja aku akan  menolongmu.”
Manik Angkeran sangat gembira. Ia tahu jika ayahnya akan selalu bisa diandalkan.  Selama ini hutang-hutangnya selalu ditutupi oleh ayahnya itu. Ia yakin orang tuanya memiliki simpanan yang banyak karena selalu melunasi hutang judinya.
            Sementara itu sang resi selalu  menghilang setiap menyanggupi akan melunasi hutang anaknya. Seringkali Manik Angkeran penasaran kemana ayahnya pergi.  Sedangkan ibunya tak pernah memberikan jawaban yang memuaskan setiap ditanya tentang ayahnya itu.
“Jangan sampai anak kita tahu kemana aku pergi!” selalu hal itu yang dikatakan Resi Begawan pada istrinya.
Istri sang resi mematuhi perintah suaminya. Ia selalu menutupi kepergian suaminya setiap Manik Angkeran bertanya. Mereka khawatir kelakuan buruk Manik Angkeran semakin menjadi jika mengetahui rahasia  besar  sang resi. Rahasia ini kemudian tersimpan rapi selama bertahun-tahun. Hingga suatu hari Manik Angkeran melakukan kesalahan besar. Rupanya dia tak pernah berhenti berjudi. Dan hari itu ia mengalami kekalahan. Manik Angkeran harus membayar hutang dengan jumlah yang sangat banyak.
Resi Begawan marah besar ketika Manik Angkeran datang dan meminta dirinya untuk kembali membayar semua hutangya. “Bukankah Kau telah berjanj takkan berjudi  lagi?” teriaknya marah.
Manik Angkeran menggigil ketakutan. Tapi ia lebih takut akibat yang akan diterimanya jika tak segera membayar hutang. “Kali ini benar-benar yang terakhir ayah!” jawabnya pelan.
“Benar-benar anak tak tahu diuntung!” Resi Begawan sangat murka.
Istrinya kemudian ikut berlutut dihadapannya, “Engkau resi yang bijaksana. Tolonglah anakmu, kasihani dia.  Nyawanya terancam jika hutangnya tak segera dilunasi,” isak istrinya.
Tapi hati Resi Begawan tak bisa dibujuk. Ia tetap tak mau membayar hutang Manik Angkeran. Istrinya sangat kecewa dan sedih dengan keputusannya itu. Melihat kesedihan istrinya, hati sang resi lambat laun luluh. Ia kemudian memanggil Manik Angkeran.
“Kali ini aku masih mau berbaik hati padamu. Tapi setelah ini jangan harap aku mau menolongmu lagi.” Resi Begawan berkata  tajam pada anaknya.
Manik Angkeran sangat gembira karena ayahnya berubah pikiran. Di samping itu rasa penasarannya semakin besar. Hutang yang harus dibayar kali ini jumahnya dua kali lipat dari  hutang-hutang yang lalu. Ia semakin yakin bila orang tuanya menyimpan harta kekayaan yang banyak di suatu tempat. Akhirnya Manik Angkeran memutuskan mengikuti ayahnya diam-diam. Hatinya semakin heran karena ternyata ayahnya berjalan hingga melewati perbatasan. Ia mengikuti terus sang resi hingga ke sebuah gunung di Bali.
            Resi Begawan sangat sedih  dengan kelakuan Manik Angkeran. Ia bertekad ini yang terakhir kalinya ia menolong anaknya itu. Dia berjalan terus hingga sampai ke Gunung Agung tempat sahabatnya Naga Besukih tinggal. Ia kemudian mengeluarkan sebuah genta kecil ketika memasuki gua kediaman sang naga. Suara genta bergema dalam gua yang tak terlalu terang itu. Awalnya tak terdengar apa-apa ketika genta berbunyi satu kali. Resi  Begawan kemudian menggoyang gentanya lagi. Tak lama kemudian terdengar suara. Bayangan hitam tampak di dinding gua. Tiba-tiba hawa panas terasa di kulit sang resi.  Manik Angkeran gemetar ketakutan dari balik bebatuan ketika sang naga memperlihatkan wujudnya.
“Ada apa lagi kau memangggilku?” suara berat dan menakutkan bergema di gua,
“Aku  ingin kau menolongku lagi wahai naga yang perkasa!” seru Resi Begawan.
Naga Besukih mendengus, “Aku bosan menolong anakmu yang tak berbakti itu!” suaranya terdengar kesal.
Resi Begawan tahu Naga Besukih tak suka pada anaknya yang suka berjudi  itu. Tapi ia berusaha keras membujuknya.
Sang naga akhirnya luluh, “Baiklah, aku akan menolongmu,” ucap sang naga mengalah.
Naga Besukih kemudian berputar dan menggoyangkan badannya. Cahaya remang memperlihatkan sisik di lehernya yang penuh oleh uang logam. Sedangkan ekornya dipenuhi intan dan emas batangan. Manik Angkeran sangat terpesona ketika menyaksikan harta yang berjatuhan dari tubuh sang naga. Resi Begawan kemudian kembali ke Banyuwangi setelah mendapatkan uang untuk membayar hutang judi anaknya.
            Sifat serakah Manik Angkeran membuatnya ingin memiliki harta yang menempel di tubuh Naga Besukih. Ia ingin mengambil batangan emas dan intan yang terdapat di ekor naga. Kemudian dia pun mengambil genta ayahnya diam-diam. Dan tanpa sepengetahuan orang tuanya dia pergi ke Gunung Agung.
Manik Angkeran dengan semangat menggoyangkan gentanya ketika memasuki gua tempat tinggal naga. Tubuhnya mendadak tegang ketika bayangan hitam itu terlihat lagi di dinding gua.
“Siapa Kau?” suara Naga Besukih menggelegar. Mata merahnya menusuk tajam.
Manik Angkeran gemetar, “Aku anak dari Resi Begawan. Aku diutus oleh ayahku untuk meminta pertolongan padamu.”
Naga menggeram. Napasnya terasa panas dikulit Manik Angkeran. Naga Besukih merasa ada sesuatu yang mencurigakan. Tapi pemuda didepannnya itu  memegang genta sang resi. Pasti memang Resi Begawanlah yang mengutusnya datang.
“Katakan apa maumu!” seru Naga Besukih kemudian.
“Aku membutuhkan uang logam yang banyak!” jawab Mani Angkeran bersemangat.
Naga dengan enggan memutar tubuhnya. Dan mulai menggoyangkan badannya agar sisik di lehernya berjatuhan. Tanpa disadarinya, Manik Angkeran mengendap perlahan di belakangnya. Kemudian pemuda serakah itu memotong ekor sang naga dengan sebuah pedang. Naga Besukih meraung kesakitan. Ia menyemburkan api ke segala arah.  Manik Angkeran sangat ketakutan. Ia tak menyangka naga itu memiliki semburan api. Ia berusaha menghindar sekuat tenaga.  Tapi  malang nasibnya, ia kemudian berubah menjadi  abu setelah terkena api sang naga.
            Resi Begawan sangat khawatir ketika mendengar raungan Naga Besukih. Ia bergegas pulang untuk mengambil gentanya. Betapa  terkejut dirinya ketika mendapati genta itu telah hilang. Sang resi langsung menduga bila Manik Angkeran yang telah mengambilnya. Kemudian dengan segera ia menyusul anaknya ke Gunung Agung. Betapa sedih hatinya ketika mendapati anaknya itu telah menjadi abu.
“Kumohon hidupkan kembali anakku dengan kesaktianmmu, wahai naga yang agung!” serunya memohon dengan sangat.
Naga Besukih yang kesakitan menjawab dengan marah. “Anakmu bodoh! Ia menginginkan harta di ekorku untuk berjudi!” raungnya.
“Aku akan menyambung ekormu kembali dengan syarat Kau hidupkan kembali dia!” seru sang resi. Ia tahu kesaktian Naga Besukih bisa meghidupkan kembali yang terkena semburan apinya.
Naga Besukih meraung marah, “Aku akan hidupkan dia lagi asal kau menjaganya untuk  tidak berjudi!”
Resi Begawan menyanggupinya. Ia kemudian menyambung kembali ekor Naga Besukih. Dan sang naga pun menepati janjinya dengan menghidupkan kembali Manik Angkeran. Pemuda itu sangat senang bisa hidup lagi. Dia kemudian berjanji pada ayahnya untuk benar-benar bertobat. Resi Begawan senang anaknya telah sadar. Ia lalu mengajak pemuda itu untuk pulang. Ketika tiba di perbatasan Banyuwangi dan Bali tiba-tiba resi itu menancapkan  tongkatnya.
“Apa yang Ayah lakukan?” seru Manik Angkeran keheranan.
Resi Begawan tak menjawab. Tak lama kemudian ia mencabut tongkat saktinya. Dari lubang tancapan tongkatnya itu keluar semburan air. Air yang memancar deras dari lubang itu semakin lama semakin lebar hingga memisahkan ayah dan anak itu.
“Tinggallah Kau di Bali anakku! Aku takut bila kau ikut denganku akan kembali lagi berjudi!” seru Resi Begawan.
Manik Angkeran tak bisa berbuat apa-apa ketika melihat sang resi pergi meninggalkan dirnya. Sementara itu air yang menggenang semakin lebar. Dan lama kelamaan membentuk sebuah selat. Selat yang memisahkan Pulau Jawa dan Bali itu kemudian dinamai Selat Bali.
***

Sabtu, 19 Mei 2018

Aji Saka - Asal Muasal Huruf Jawa Kuno

#Aji Saka
#Legenda dari tanah Jawa
#Cerita anak

Oleh: Yola Widya



Dahulu kala hiduplah seorang pemuda sakti bernama Aji Saka. Ia tinggal di wilayah kerajaan Medang Kamulan yang dipimpin oleh Prabu Dewata Cengkar. Rakyat kerajaan Medang Kamulan hidup dalam ketakutan. Hal itu dikarenakan raja mereka memiliki kegemaran yang mengerikan. Ia senang melahap daging manusia terutama yang berusia muda.

Pada suatu hari, Aji Saka yang tengah keluar dari pertapaannya mendengar keributan penduduk desa. Semua orang bergerombol di luar rumah. Para ibu menangis. Sedangkan pemuda-pemuda tampak ketakutan.

"Ada apa gerangan?" Aji Saka bertanya penasaran kepada seorang lelaki tua.

"Sang Raja!" teriak lelaki itu histeris. "Dia mengambil seorang pemuda dari desa ini!"

Aji Saka geram dengan kelakuan Prabu Dewata Cengkar. Ia bisa merasakan ketakutan yang melanda rakyat kerajaan Medang Kamulan ini. Mereka tak bisa melarikan diri karena wilayah kerajaan di jaga oleh para prajurit yang setia pada raja. Akhirnya Aji Saka bertekad menantang sang raja. Ia kemudian memasuki istana kerajaan dengan gagah berani.

"Siapa Kau?!" teriak raja. Prabu Dewata Cengkar bangkit dari tahtanya. Ia terheran-heran dengan kedatangan pemuda tak dikenal itu.

Aji Saka menjawab lantang, "Aku Aji Saka. Aku bermaksud menyerahkan diri padamu!"

Raja dan para penghuni istana tertawa mendengar perkataan Aji Saka. Mereka beranggapan pemuda itu sangat bodoh.

"Dagingmu terlihat sangat lezat!" wajah Prabu Dewata Cengkar mulai beringas. Ia ingin segera melahap pemuda kurang ajar itu.

Aji Saka tersenyum, "Hamba senang bisa menjadi santapanmu, Tuanku! Tapi dengan satu syarat!" teriaknya. Ia ingin semua penghuni istana mendengarnya.

"Katakan apa syaratmu, cepatlah!" balas sang raja.

"Aku ingin Kau hadiahi aku tanah selebar sorbanku ini!" jawab Aji Saka. Tangannya menunjuk kain yang membebat kepalanya.

Sontak raja dan para pengikutnya tertawa terpingkal-pingkal. Mereka berpikir tak ada manusia yang sebodoh pemuda itu.

"Baiklah, Aku kabulkan permintaanmu. Sekarang gelarlah sorbanmu itu!" perintah sang raja.

Aji Saka dengan tenang melepas sorbannya. Ia kemudian menggelar kain sorban di lantai istana. Lebarnya tak lebih dari setengah meter. Raja sangat geli melihat tingkah Aji Saka. Baginya tanah selebar sorban itu tak ada artinya. Tapi kemudian keanehan terjadi. Kain sorban itu melebar dan semakin lebar lagi. Sampai akhirnya keluar dari istana dan hampir menutupi seluruh wilayah kerajaan. Tawa raja dan pengikutnya terhenti. Mereka tercengang. Kini rasa marah dan takut mulai menguasai mereka.

"Apa ini? Kau menipuku!" teriak Prabu Dewata Cengkar geram. Ia lalu menerjang Aji Saka dengan marah.

Aji Saka menyambut serangan sang raja. Mereka terlibat perkelahian sengit. Namun ternyata kesaktian Aji Saka bukanlah tandingan raja. Akhirnya, Prabu Dewata Cengkar pun binasa di tangan pemuda itu. Adapun sorban pusaka itu terus melebar dan akhirnya menutupi seluruh wilayah kerajaan Medang Kamulan. Aji Saka pun menjadi penguasa baru wilayah kerajaan itu. Rakyat kerajaan Medang Kamulan sangat gembira mendengar kematian raja mereka. Dan mereka berharap Aji Saka bisa menjadi raja yang baik.

Suatu hari Aji Saka menyempatkan diri untuk pulang ke pertapaannya. Ia ingin menyimpan sorban pusakanya di tempat yang aman.

"Wahai Subadra! Aku titahkan Kau untuk menjaga sorban pusaka ini. Kelak Aku akan mengambilnya kembali." perintah Aji Saka pada salah seorang abdi setianya di pertapaan.

Subadra menyanggupi tugasnya. Ia akan mengemban titah Aji Saka dengan sebaik-baiknya. Setelah menitipkan benda pusaka itu Aji Saka pun kembali ke istana. Ia membawa serta Dora, abdi setianya. Tak lama kemudian diceritakan Aji Saka akhirnya dinobatkan menjadi seorang raja. Ia memimpin kerajaannya dengan bijaksana. Rakyat Medang Kamulan pun sangat mencintainya.

Selang beberapa tahun di masa pemerintahannya, Aji Saka teringat akan sorban pusakanya. Ia ingin mengambil benda pusaka itu, tapi tak mungkin meninggalkan kerajaan begitu saja. Akhirnya ia memerintahkan Dora untuk mengambil sorban itu. Dora pun berangkat ke pertapaan untuk menemui Subadra.

"Saudaraku, lama nian kita tak jumpa!" Subadra sangat senang dengan kedatangan Dora.

Dora pun sebenarnya sangat merindukan pertapaan dan saudaranya itu. Mereka kemudian terlibat percakapan hangat.

"Saudaraku, Aku sebenarnya datang kemari mengemban tugas dari raja. Aku dititahkan untuk mengambil sorban miliknya." Dora akhirnya menyatakan maksud kedatangannya.

Kening Subadra berkerut, "Maaf, Saudaraku. Aku tak bisa mengabulkan permintaanmu. Aku dititahkan untuk menjaga sorban itu. Dan raja yang akan mengambilnya sendiri." Subadra menimpali perkataan Dora.

Dora tak mengerti dengan jawaban Subadra. Seharusnya saudaranya itu menyerahkan saja sorban itu.

"Aku pun mengemban titah, Subadra!" serunya. Wajahnya mulai menegang.

Subadra bersikeras tak mau menyerahkan sorban itu. Mereka berdua saling bersikukuh dengan pendapat masing-masing. Merasa tak bersalah karena masing-masing mengemban titah dari Aji Saka. Pertengkaran mereka semakin sengit. Akhirnya terlibatlah mereka dalam pertempuran yang hebat.

Sementara itu Aji Saka mulai merasa aneh karena Dora tak kunjung kembali. Ia hendak mengirim utusan untuk menyusul abdinya itu tapi kemudian mengurungkannya. Tiba-tiba Aji Saka teringat janjinya pada Subadra. Ia dahulu berkata akan mengambil sendiri sorban pusaka itu. Terkejut dengan ingatannya itu, Aji Saka dengan segera berangkat ke pertapaan.

"Ya Tuhan!" pekiknya terkejut. Ia melihat kedua abdi setianya telah tak bernyawa ketika tiba di pertapaan.

Aji Saka sangat menyesali kelalaiannya. Ia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri. Kedua abdinya telah menunjukkan kesetiaan yang luar biasa padanya. Kemudian diceritakan Aji Saka menciptakan huruf Jawa kuno demi mengenang kesetiaan Subadra dan Dora. Huruf-huruf Jawa itu dinamai Ha na ca ra ka  Da ta sa wa la  Pa da ja ya nya  Ma ga ba tha nga. Yang artinya "ada utusan saling berkelahi, sama-sama saktinya, sama-sama mati".




Bandung, 19 Mei 2018