Ini aku yang dengan tak sopan mengunjungiMu. Tak kuketuk pintuMu terlebih dahulu karena memang tak pernah terkunci
Ini aku yang mencoba menyembunyikan rasa malu dari kasih sayangMu
melangkah perlahan mencari baris terdepan yang terdekat padaMu.. kurasa
karena sejatinya Kau tak pernah jauh sedetikpun dariku
aku yang menjauh...
Ini aku yang mencoba merangkai kata dalam doa
namun mengapa hanya bulir bening itu yang terucap.. aku pilu
tersuruk dalam sujudpun masih tak ada kata yang terusung
hanya bulir bening menjawab semua duka
Ini aku yang menyangkal semua pedih dengan tawa
menyingkirkan semua keluh dengan peluh
ini hanya dunia!!
aku tak ingin menangis karenanya
aku tak ingin terpuruk karenanya
kukeringkan semua duka kuhentakkan semua pedih.. aku tak ingin mengeluh
tapi.. aku hanyalah aku
lemahku hanya dihadapanMu
ini aku membawa semua riak dunia padaMu
ini aku yang tak ingin beranjak dari rumahMu
mengharap sepercik cahaya ketenangan dariMu
aku kembali...
Sabtu, 25 Februari 2017
Kamis, 23 Februari 2017
NHW#5 - Desain Pembelajaran
Ketika mempelajari NHW#5 saya benar-benar tercenung. Betapa NHW kali ini membutuhkan penjabaran tentang seberapa jauh pemahaman saya tentang NHW-NHW sebelumnya. Tentang seberapa seriusnya saya dalam hal pelaksanaannya dalam keluarga. Betapa dituntutnya keseriusan saya dalam penguasaannya. Ini semakin menambah keyakinan bahwa setiap materi yang didapat membutuhkan keikhlasan dalam pemahaman dan pelaksanaannya. Berkeyakinan bahwa NHW#5 kali ini adalah sebagai kerangka dari proses belajar yang akan dijalankan, demikian desain pembelajaran yang saya pahami :
1.Menentukan jurusan ilmu
Mengetahui dengan pasti jurusan ilmu yang akan dipelajari akanlah sangat membantu dalam proses menimba ilmu terkait. Sehingga tidak terjadi sembarang menyerap ilmu. Jurusan ilmu peningkatan kualitas diri merupakan jurusan yang saya ambil
2.Menetapkan indikator-indikator
Menetapkan program pembelajaran akan sangat dibantu dengan adanya indikator yang tepat. Sehingga dapat dengan jelas program dan metode belajar seperti apa yang akan dijalani. Adapun indikator yang diperoleh adalah dari diri pribadi, dari suami dan dari anak. Semuanya menjadi modal awal penyusunan program pembelajaran.
3.Maksud dan Tujuan
Dengan memahami maksud dan tujuan dari jurusan ilmu yang diambil, insha allah akan terhindar dari keraguan dan ketidakpastian dalam menjalani proses pembelajaran. Maksud dan tujuan yang jelas akan memperjelas dan memperkuat alasan mengapa jurusan ilmu tersebut yang ingin dijalankan. Memahami peran hakiki saya dalam keluarga menjadi modal dalam mengambil langkah-langkah untuk mencapai keluarga mandiri,
4.Metode Belajar
Metode belajar yang diambil seperti mengikuti seminar-seminar, workshop, bergabung dengan grup-grup WA dan FB, yang berkompeten dengan jurusan ilmu yang diambil. Mengambil informasi yang berkaitan dari buku ataupun surat kabar. Tentunya dengan menyeleksi terlebih dahulu informasi yang diambil.
5.Program Belajar
*senin-selasa: penerimaan materi
*rabu-kamis : pembahasan dan pemecahan masalah
*jumat : penulisan jawaban-jawaban
*sabtu : evaluasi
Setiap hari merupakan praktek dari materi yang didapat dengan berpegang pada indikator yang ada.
6.Tempat Menimba Ilmu
Institut Ibu Profesional merupakan tempat menimba ilmu yang saya prioritaskan. Dan ada beberapa grup menulis dan bisnis tempat saya memperoleh ilmu tambahan.
7.Penilaian
Dan pada akhirnya evaluasi dari hasil pembelajaran akan sangat dibutuhkan sebagai tolak ukur keberhasilan. Tim yang berhak menilai saya tetapkan suami dan anak-anak. Evaluasi akan dilakukan setiap satu bulan sekali.
Desain pembelajaran yang sesuai dengan kapasitas pemahaman saya ini akan menjadi kerangka dalam menjalankan proses menimba ilmu dan pelaksanaannya.
Rabu, 15 Februari 2017
Nice Homework#4 - Mendidik Dengan Kekuatan Fitrah
Bismillah...menerima materi 4 dari matrikulasi ini menggugah kesadaran saya akan pentingnya kualitas waktu bersama anak. Terlebih lagi karena ternyata begitu berbeda makna antara 'waktu dengan anak' dan 'waktu bersama anak'. Waktu 'dengan' anak hanyalah waktu ketika menghabiskan waktu bersama tanpa adanya jalinan emosi. Sedangkan waktu bersama anak adalah waktu ketika ada kualitas kerbersamaan seperti tukar pikiran, sharing, nasihat menasihati dan lain-lain. Seperti tertohok karena ternyata lebih banyak waktu 'dengan anak' daripada waktu 'bersama anak'.
Di NHW#4 ini ditantang untuk dapat menemukan misi hidup yang sebenarnya yang diaplikasikan untuk mendidik anak pada khususnya dan keluarga pada umumnya. Butuh perenungan yang panjang karena ini merupakan titik awal dari kebangkitan keluarga kami.
Pembahasan :
Di NHW#1 Saya memantapkan diri dalam jurusan ilmu meningkatkan kualitas diri. Setelah melalui perenungan yang panjang, konsep ini berkembang menjadi ilmu peningkatan kualitas diri yang pada akhirnya menjadi contoh dan inspirasi bagi anak-anak dan juga suami untuk juga dapat meningkatkan kualitas dirinya. NHW#1 ini saya revisi tidak dengan mengganti jurusan tetapi dengan melengkapi jurusan ilmu yang saya ambil.
Hari-hari dalam mengaplikasikan NHW#2 memang penuh dengan lika-likunya. Begitu terasa suka dukanya, betapa segala ego dan kesibukan diri harus 'dipaksa' untuk mengalah demi konsisten terhadap poin-poinnya. Memang ada beberapa poin yang harus melewati proses sabar dalam pelaksanaannya, namun perlahan tapi pasti Saya berusaha untuk tetap konsisten melaksanakannya. Selalu ada pro dan kontra dari orang lain, bahkan aneh dan tercengang, tapi alhamdulillah sedikit demi sedikit terjadi perubahan yang signifikan. Biarpun lambat tetap hasilnya terlihat.
Alhamdulillah Saya menyebutnya kekuatan surat cinta. Begitu banyak perubahan yang terjadi antara saya dan suami, komunikasi yang semakin terbuka dan lancarpun terjalin kini. Dari awal bergabung dengan matrikulasi ini sebenarnya Saya sedang berada di 'medan perang' yang berat. Pasca resign 'terpaksa' karena sakit membuat kondisi emosi yang labil sehingga berdampak pada keluarga pula. Tetapi karena matrikulasi ini dan NHW-NHWnya yang menyenangkan, membuat saya fokus terhadap tujuan hidup. Banyak yang tercengang karena melihat perubahan pada diri saya. Motivasi dan kekuatan yang timbul dari dalam diri saya membuat semakin fokus pada tujuan hidup, fokus untuk sehat, fokus untuk berbuat yang terbaik. Berawal dari diri sendiri, keluarga kemudian lingkungan.
Begitu banyaknya permasalahan hidup membuat saya tersadar dengan misi hidup ini. Ternyata setelah direnungi, hari- hari yang dilalui penuh dengan memberikan motivasi pada diri sendiri dan keluarga. Betapa bersemangatnya saya setiap berbicara membangkitkan semangat orang lain. Dan betapa seringnya saya bercerita hal-hal yang memberikan inspirasi terutama kepada suami dan anak-anak. Pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa misi hidup ini adalah untuk memberikan motivasi dan inspirasi kepada orang lain terutama keluarga. Adapun bidang yang ingin saya tekuni adalah pengembangan kualitas diri melalui bakat dan minat. Insha allah peran yang ingin saya jalani sebagai motivator dan inspirator.
Adapun ilmu-ilmu yang dapat mendukung misi hidup tersebut adalah:
1. Ilmu Agama
Sebagai ilmu dasar untuk menguatkan pondasi ilmu yang lain
2. Ilmu Public Speaking
Ilmu tentang komunikasi yang efektif
3. Ilmu Manajemen Emosi
Ilmu tentang pengendalian diri
4. Manajemen Waktu
Tentang olah dan pengontrolan terhadap waktu
5. Manajemen Produktivitas
Ilmu seputar peningkatan kualitas diri
Dalam menetapkan milestone, Saya tetapkan km 0 dimulai pada hari ini pada saat ini dengan batasan waktu usia 15 pada anak. Karena anak pertama sekarang berusia 14 tahun dan anak kedua 12 tahun, berarti saya berburu dengan waktu sebelum mereka menginjak usia 15, sebelum menjadi pribadi sendiri yang mandiri. Alhamdulillah ilmu-ilmu diatas telah diaplikasikan selama hampir setahun ini. Dan ternyata dalam perjalanannya berjalan beriringan satu dengan yang lainnya. Dalam materi dan praktekpun tak bisa dipisahkan. ketika mendapat ilmu maka saya akan langsung mengaplikasikannya sesuai dengan irama kegiatan.
Untuk lebih terperincinya saya targetkan perminggu, dalam satu minggu setiap selasa dan kamis diperuntukkan untuk ilmu agama, dan hari-hari yang lain untuk mencari atau menerima materi ilmu yang lain. Setiap sabtu dan minggu akan ada review khusus materi-materi yang didapat selama satu minggu, dan mengaplikasikannya dalam waktu 'bersama' keluarga. Diharapkan dalam satu bulan terlihat kesinambungan antara materi dan praktek. Dalam tiga bulan diharapkan anak-anak produktif sesuai minat dan bakatnya, dan suami diharapkan bisa memiliki usaha yang mandiri. Dalam satu tahun diharapkan adanya keseimbangan antara materi, praktek dan hasil yang dicapai.
Bismillahirrahmanirrahim semoga allah memudahkan.
Selasa, 14 Februari 2017
Diary Oji - The First
Assalammualaikum diary,
Hari ini kala pertama kali aku melangkahkan kaki ke pertandingan bola yang sesungguhnya. Dag dig dug itu pasti, sedikit rasa minderpun menggelitik hatiku tatkala melihat kawan yang lain yang jam terbang tandingnya telah berjibun. Tapi aku harus tetap maju, karena ini timku.
Dari kelas dua SD aku telah berjibaku dengan benda bulat ini, bola. Aku sangat menyukainya,bahkan seringkali uang jajanku habis untuk membeli bola. Walaupun sering dimarahi karena selalu bermain bola di lapangan dalam sekolah, aku tak pernah kapok. Walau wakil kepala sekolah sering menegurpun aku tak kapok jua. Sering bola yang kutendang melenceng dan masuk ke ruang tata usaha. Dan pasti hukumannya bola langsung disita, tapi aku tak pernah berhenti untuk langsung membeli bola plastik baru. Bahkan demi keamanan aku sering sengaja mengempiskannya dan menyembunyikannya di tumpukan barang bekas di halaman belakang sekolah. Keesokan harinya, aku akan mengambilnya diam-diam dan meniupnya hingga bulat kembali. Yah karena aku cinta sepakbola.
Di sekolah sepakbola ini, bahkan pada saat waktu pemanasan sebelum pertandinganpun aku sadar benar bahwa aku banyak tertinggal dalam teknik maupun fisik. Ternyata Lima tahun di futsal tidak menjadikan aku ahli bermain bola. Tapi aku tak kecil hati, karena banyak pelatih yang membantu dan membimbingku. Memang pr latihan fisik yang harus aku pelajari sedikit banyak dari yang lainnya, tapi aku menyukainya dan bersungguh-sungguh melakukannya.
Saat ini aku berada dilapangan mini sepakbola. Hujan gerimis membasahi rerumputan dan menjadikannya medan yang berat bagi kami. Tanahnya menjadi lembek sehingga lengket di sepatu kami. Kemudian ketika kami bermain hujan berubah menjadi sangat deras, tanah semakin lembek dan lari kami menjadi terhambat tanah yang menempel di sepatu. Rasanya berat sekali melangkah dan berlari dengan tanah berkilo-kilo di kakiku. Permainan jadi sedikit kacau dan kami satu tim merasa sangat kelelahan. Tapi kami tetap bermain.
Awal pertandingan dimulai aku sempat diam mematung. Benar aku bingung apa yang harus dilakukan dan masih belum bisa membaur dengan strategi. Setelah disemangati...diteriaki pelatih tepatnya hehe...aku mulai memaksakan kaki untuk lebih lentur dan mengikuti irama permainan. Wah ternyata aku benar-benar kalah pengalaman. Tapi aku tak kecil hati karena aku punya tekad untuk bisa, kata mami kalau aku bersungguh-sungguh apapun yang tak mungkin pasti akan menjadi mungkin. Dan aku yakin akan bisa menjadi pemain bola yang dibanggakan keluarga nanti.
Yah diary, hari ini aku bertanding sesungguhnya di medan yang berat. Walaupun kalah 3-0, aku tak mengeluh, tak merasa kalah, karena pertandingan ini yang menjadi pengalaman awal yang menyenangkan bagiku. Dan kini aku dengan senang hati mengenakan jaket klub yang bertuliskan, Diklat Jabar Indonesia Muda. Diary doakan aku menjadi pemain yang tangguh yah.....
Langganan:
Postingan (Atom)