Jumat, 03 Februari 2017

Indonesia Muda ( SSB )

     Penting bagi para orang tua untuk dapat melihat minat anak terhadap bidang apa, selain untuk semakin mengembangkan keahlian anak juga untuk mengembangkan kebutuhan sosial sang anak pula. Ada beberapa minat yang bisa disalurkan melalui kegiatan ekstrakulikuler di sekolah, namum bisa pula untuk semakin mengasah minat tersebut diseriuskan dengan mengikuti klub-klub.
    Sudah hampir setahun kebelakang saya mencari klub sepakbola dibandung dengan niat menjembatani minat anak di bidang sepakbola. Harapan anak mendapatkan ilmu yang sesuai dengan minatnya sangatlah besar, terlebih setelah diberi opsi-opsi bidang minat yang lain ternyata niatnya kukuh pada sepakbola. Setelah tujuh tahun mengasah minatnya di futsal, rasanya sekarang saatnya untuk memfasilitasi lebih sang anak agar mendapat ilmu lebih dan berharap bisa menjadi keahlian yang produktif kelak.
      Jujur sulit mencari SSB yang sesuai dengan harapan, terlebih informasi di internet yang saya dapat kurang memuaskan. Banyak klub yang terlalu jauh tempatnya dan terlalu mahal costnya bagi dompet. Kesulitannya lagi ternyata tidak semua klub sharing keberadaannya di internet, padahal internet adalah tempat pertama yang diburu para pencari informasi. Sangat disayangkan dengan jumlah klub sepakbola yang cukup banyak di Kota Bandung ini tetapi minim informasinya di internet.
     Bersyukur karena hobi jalan-jalan untuk mencari bahan tulisan malah mempertemukan saya dan anak dengan klub sepakbola Indonesia Muda. Pertemuan yang tak disengaja, hari minggu sepulang dari gasibu kami melewati lapangang ciujung. Lapangan tersebut penuh dengan aktivitas olahraga, dan kami lihat ada beberapa SSB yang ikut meramaikannya. Penasaran, awalnya hanya sekedar ingin mencari informasi dan masih bingung dengan SSB apa yang akan dimintai informasi. Beruntung ada orangtua yang memberi informasi bahwa ada SSB IM yang sedang latihan disitu. Indonesia Muda SSB yang diakui PSSI dan sering mengikuti perlombaan-perlombaan. Piagam yang didapat dari perlombaan digunakan untuk jalur prestasi bagi anak kelas 6 yang ikut klub tersebut. Bagai mendapat durian runtuh, sungguh sangat bersemangat mendengarnya, terlebih lagi dengan iuran bulanan yang sangat ramah dompet.
     Indonesia Muda yang alamat administrasinya di jalan kanayakan bandung ini ternyata memiliki pelatih-pelatih yang sangat solid, anak tk pun dilatih dengan serius baik teknik maupun fisik. Bagi anak-anak yang usianya masih muda, latihannya di lapangan ciujung setiap hari rabu sore dan minggu pagi. Sedangkan bagi anak-anak yang besar latihan hari rabu di ciujung (tidak wajib) dan hari minggu pagi di lapangan mini arhanud dekat graha siliwangi jalan aceh. Khusus dari angkatan 2005 sampai angkatan atasnya ada program diklat selama tiga bulan.
     Dengan biaya pendaftaran sebesar 150 ribu mendapat fasilitas seragam plus kaus kakinya dan spp satu bulan. Biaya diklat diluar biaya SSB, tapi bagi yang ikut diklat tak perlu lagi membayar spp SSB selama tiga bulan kedepan. Biaya spp sebesar 50 ribu perbulan, dan ada beberapa seragam yang harus dimiliki untuk pertandingan, Tak mahal hanya sekitar 60 ribu saja. 
    Beruntung saya akhirnya bisa memfasilitasi minat anak dengan biaya yang terjangkau dan kualitas SSB yang tidak meragukan. Dengan harapan sang anak bisa masuk SMP dengan jalur prestasi, semoga. Ayo gabung di SSB Indonesia Muda ( IM ) !!


Kamis, 02 Februari 2017

Nice Homework#2

      NHW#2 kali ini benar-benar menguliti segala yang belum sempurna di diri saya, baik sebagai individu, sebagai istri, maupun sebagai ibu. Ternyata pribadi ini masih sangatlah jauh dari sempurna, masih sangatlah jauh dari kata Ibu Profesional. Apabila mengacu dari maknanya, bahwa Ibu Profesional adalah ibu kebanggaan keluarga. Begitu banyak yang masih harus diperbaiki, tetapi bukan untuk mencapai kesempurnaan, karena sempurna itu hanyalah milik allah.
        Dalam NHW kali ini saya ditantang untuk dapat melihat kekurangan diri dan ditantang untuk dapat membuat target-target untuk perbaikan diri. Dan berikut ini indikator-indikator profesionalisme saya sebagai individu, sebagai istri dan sebagai ibu.

Indikator keberhasilan sebagai individu

Saya menceklis beberapa indikator:
- membiasakan solat tahajud
- membiasakan kembali puasa senin-kamis
- tidak bangun kesiangan
- memasak makanan sehat
- penurunan berat badan
- menjauhi pikiran negatif
- insha allah selalu menambah ilmu
- mengasah keterampilan memasak dan membuat kue
- mengembangkan hobi menulis cerita dan menulis puisi kembali
- meningkatkan produktivitas diri
- berdaya guna bagi masyarakat sekitar

Dan ada target-target yang ingin saya lakukan untuk mencapai keberhasilan sebagai individu
 - tidur paling lambat jam sepuluh tiap malam
 - tidak tidur lagi setelah mematikan beker
 - olahraga teratur. Dua hari sekali jalan kaki selama setengah jam, empat kali seminggu workout selama 15 menit.
- mulai minggu depan menguatkan tekad puasa senin-kamis dan memasukkannya pada program penurunan berat badan sebagai detoksasi.
- seminggu sekali ke perpustakaan daerah. Membaca dan membuat resume buku.
- menulis hal-hal positif sebagai latihan menghindarkan pikiran negatif. Insha allah dua kali seminggu.
- berkumpul dengan teman satu komunitas bila ada acara untuk menambah wawasan,minimal satu bulan sekali.
- praktek resep masakan baru dan kue-kue, minimal satu minggu sekali.
- mengikuti seminar dan workshop minimal satu bulan sekali.
- aktif di pengajian sekitar dan di PKK. Minimal aktif di pos yandu.

Dalam satu minggu akan ada pemeriksaan kemajuan, menceklis hal-hal yang belum dipraktekan. satu bulan sekali survey kemajuan yang telah diperoleh.

Indikator Profesionalisme Sebagai Istri

Ketika menyodorkan pertanyaan suami bersemangat menjawab hehe..rupanya masih banyak yang perlu diperbaiki oleh saya.

- menyiapkan kopi. Terkadang lupa karena sibuk menyiapkan bahan dagangan.
- menyiapkan sarapan. Terkadang seadanya karena ada kegiatan diluar rumah.
- memasak dengan bahan yang ada dulu. sering sekali masih ada bahan yang bisa diolah di kulkas saya malah belanja sayuran lain, karena passionnya memasak menu yang lain.
- inginnya istri lebih banyak tersenyum, tertawa dan bernyanyi. Saya terlalu sibuk ini itu sampai jarang bersantai.
- inginnya jangan sibuk sibuk sendiri
- jangan terlalu sering mengkhawatirkan sesuatu
- diusahakan jangan terlalu banyak kegiatan diluar rumah yang waktunya lama
- jangan terlalu banyak bicara yang tidak perlu. Ini tantangan karena saya senang bicara banyak hal.
- menemani menonton tv terutama sewaktu nonton angling darma. Ini tantannga karena saya tidak begitu merespon baik serial tersebut.

Melihat begitu banyak indikatornya, Saya mentargetkan beberapa hal dalam perbaikannya

1. mengutamakan pelayanan terhadap suami ( menyiapkan kopi, sarapan, mengambilkan air sepulang kerja, memijar bila diminta, menemani menonton tv)
2. Berhemat dalam pengolahan bahan makanan
   - membiasakan menghabiskan bahan olahan yang ada di kulkas dahulu
   - tidak terlalu sering belanja ke pasar atau swalayan. cukuo 2 atau 3 kali seminggu.
3. Mengurangi kegiatan diluar rumah yang waktunya lama (diusahakan 4 kali seminggu)
4. Belajar mengajak ngobrol serius dengan suami di waktu tertentu saja. Sewaktu sarapan pagi dan sebelum tidur.
5. Belajar mengontrol emosi
   - tidak bawel pada saat pagi hari
   - tidak cemberut saat pekerjaan rumah tidak beres-beres.
   - tidak stres pada saat akhir bulan

Setiap akhir pekan insha allah akan ada evaluasi hasil perkembangan selama seminggu. Dan dalam waktu satu bulan diberikan penilaian oleh suami apakah ada perubahan ataukah stagnan.

Indikator Profesionalisme Sebagai Ibu

Ini sesuatu yang seru dan menggelikan, karena anak-anak sulit sekali dimintai pendapat malah bilang..apaan ih ribet ah! hehe..setelah perjuangan yang alot akhirnya ada poin-poin yang dituliskan juga.

- ibu jangan cerewet di waktu pagi hari.
- jangan marah kalau ada PR atau tugas yang lupa dikerjakan
- jangan pelit kuota
- ada dirumah sewaktu pulang sekolah
- menyiapkan makanan selera anak yang kekinian
- membantu mencari jawaban PR yang sulit
- jangan bilang enggak ada uang saja kalau kaka sama ade mau jalan-jalan
- mendukung minat dan bakat

Dan berikut target perbaikan yang ingin dicapai

1. manajemen emosi
2. bertanya setiap pulang sekolah apa ada PR atau tugas
3. memberi kesempatan membuka internet setengah jam setiap hari
4. membatasi jam keluar rumah, paling lambat jam dua sudah dirumah. memang sudah dibiasakan sejak awal dan berarti sekarang tanpa pengecualian.
5. banyak belajar resep baru terutama camilan untuk anak-anak
6. menemani anak belajar setengah jam setiap hari
7. mengajak anak menyisihkan uang jajannya untu ditabung, minimal dua ribu sehari.
8. memfasilitasi minat dan bakat anak. Memang sudah berjalan dari awal, ade seminggu tiga kali latihan di klub sepakbola. Kaka seminggu sekali berlatih panahan. Sekarang harus mulai diseriuskan untuk mengikuti perlombaan-perlombaan

Di setiap akhir pekan akan ada penilaian adakah komitmen yang dilanggar dan setiap akhir bulan ada penilaian kemajuan dari setiap poin. Dalam tiga bulan diharapkan ada kesinambungan antara materi dan praktek. Sehingga dalam setahun bisa tercapai hasil yang diharapkan.

     Alhamdulillah semoga indikator-indikator profesionalisme diatas bisa menjadi acuan untuk perbaikan diri baik sebagai individu, istri maupun ibu. Dan sekali lagi bukan untuk mencapai kesempurnaan, karena sempurna itu hanyalah milik Allah semata.



Jumat, 27 Januari 2017

Anak dan Gadget

      Tak aneh melihat anak-anak jaman sekarang yang begitu lekat dengan gadget. Bahkan banyak anak yang merengek minta dibelikan gadget biar tidak dikatakan kudet ( kurang update ), termasuk anak saya sendiri. Memang dilema tersendiri antara melihat anak anteng dengan ponsel atau rumah berantakan. Rasanya pilihan utamanya jatuh pada anak anteng dengan ponsel, jadi sang ibu ini bisa anteng pula dengan pekerjaannya. Tak usah merasa risau karena sedikit-sedikit ada ini itu yang mengganggu, hmm..inginnya sih seperti itu.
      ketika sang ibu ini merasa sedikit terganggu kenyamanan beristirahatnya, berasa sangat menggoda untuk menyodorkan ponsel pada sang anak. Dan, yah saya melakukannya. Terasa sangat merasa nyaman ketika melihat anak anteng dan diam dirumah terus. Lebih nyaman lagi ketika melihat susunan bentuk perabot rumah yang tak bergeser sesentipun. Senang sekali ketika waktu makan dia tinggal makan karena sudah disodorkan piringnya, ketika mandi dia tinggal masuk kamar mandi, ketika waktu solat dia tinggal solat. Enjoy sekali karena tak harus bolak-balik nengok ke teras rumah berharap anak pulang dari bermain.
      Jujur, istirahat jadi tenang karena tahu anak ada di kamarnya, anteng bermain gadget. pekerjaan rumah jadi bisa selesai dengan urutan yang diharapkan. Legaaaa rasanya semua jadi serba teratur. Itu menurut versi saya loh, dan itu hanya permulaannya saja. Apalagi yang paling membahagiakan bagi para emak selain dari segala urusan rumah tangga berjalan lancar dan beurutan, rasanya hari terlalui dengan penuh kesuksesan bila hal itu terwujud. Ya ya ya, sayalah ibu paling berbahagia.
     Seiring waktu sang ibu yang egois ini mulai merasa kesepian, seperti layaknya ibu-ibu yang lain yang anaknya anteng dengan dunianya sendiri. Oh my god saya kehilangan dia! magnet gadget semakin menyedot daya khayalnya ke dunia maya. segala keaktifan dan kreativitasnya seolah tersalurkan ke dalam kerumitan dunia maya. Dia jadi berkreativitas didunianya sendiri, berbicara di dunianya sendiri, bermain di dunianya sendiri. Bangun tidur yang disapa ponsel, pulang sekolah yang disapa ponsel. Makan minum jadi jarang, apalagi yang namanya belajar. Saya rasa ini bukan hal yang diharapkan oleh kita para ibu.
     Akhirnya magnet gadget yang begitu kuat malah membuat berantakan hubungan sosial di dalam keluarga, malah mebuat hubungan emosi menjadi semakin hambar. Yah rumah dan pekerjaan saya rapih terurus, tapi anak semakin tak 'terurus'. Panik mulai menjalar, dan saya yakin para ibu yang lainpun mengalami hal yang serupa.
     Akibat gadget ternyata malah menambah pekerjaan rumah. Yakin melarang dan memarahi hanya akan semakin membuat anak anti sosial saja. Insiatif mengaktifkan aplikasi sensor berdasarkan usia di google akan banyak membantu bagi anak yang kecanduan gadget. Saya yang mendapat informasi tersebut langsung mempraktekkannya, dan lumayan bisa mengerem anak berselancar lebih mendalam di internet. Anak tak bisa mengakses game atau aplikasi diatas batasan usia yang saya terapkan di gadgetnya. Alternatif  lainnya tidak mengisi ulang ketika wifi habis, saya ganti dengan kartu sekali pakai lagi. Dengan harapan memberi pengertian jikalau dipakai terus-terusan kuotanya akan cepat habis karena kartu berbatas isinya. Lambat laun anak tertarik kembali ke dunia nyata, tidak cepat marah lagi karena bukan paksaan dan larangan yang penuh marah yang diterapkan disini.
     Yang paling penting saya selalu berusaha mengalihkan perhatiannya dari gadget, selalu bertanya mengajak ngobrol, walaupun jujur anak sering kesal karena ibunya bawel katanya. setidaknya kosentrasinya pada gadget terpecah. Dan pamungkas dari masalah gadget ini, salurkan hobi anak kembali. Yah walau itu yang sering membuat kepala cenat cenut ketika berada di rumah, ketika anak rajin menendang bola, hhhh... ketika seluruh keaktifan dan kreativitasnya tersalurkan pada hobinya kembali, kita bisa bergembira karena sedikit banyaknya kendali mulai berada ditangan kita kembali.
      Sekarang pekerjaan bertambah karena seminggu dua kali mengantar anak ke klub sepakbola. Rasanya sakit kepala ini, melihat kamar mandi yang mulai penuh busa lagi, hobinya menggosok bak mandi muncul lagi hmm...sepeda yang tak berdosapun ikut disikat berbusa-busa. Air mulai meleber sampai ke dapur kembali. Dan bak cucian piring penuh busa sabun cuci. Well my son is back! Kepala memang sedikit cenat cenut, tapi bahagia rumah ramai kembali, bahagia yang disapa anak pertama kali bukan gadget lagi. Ya ya ya, saya ibu paling berbahagia.

Selasa, 24 Januari 2017

Nice Homework #1

     Akhirnya matrikulasipun dimulai pada tanggal 23 januari kemarin. Dag dig dug itu pasti, tertantang masih encerkah otakku ini? hehe pertanyaan yang sedikit banyaknya mengungkap gelitik minder di diri ini. Peserta yang luar biasa, ibu-ibu yang luar biasa. Siapa bilang emak rempong otaknya gak berisi ? dan baru beberapa hari semakin yakin dengan kredibilitas para peserta matrikulasi batch #3 ini, aku mah apa atuh...Ups! i think thats wrong, mengutip perkataan Teh Ismi Fasilitator kita yang keceh, SEMUA ADALAH MURID SEMUA ADALAH GURU (maafkan bila terbalik, malas manjat hehe..). Nah itu baru yang benar, tidak ada yang lebih pintar tidak ada yang lebih benar dalam adab ilmu, semuanya sama, sama-sama belajar.

     Masih dengan predikat silent reader, tergelitik untuk menjejakkan sidik jari di diskusi grup, tapi rupanya si aku yang rempong ini hanya sempat membaca dan memahami di sela-sela paciweuhnya ( insha allah akan lebih aktif nantinya). Dan hari kemarin nice homework yang dinantipun muncul, terpesona dengan pertanyaannya, benar-benar membuatku tercenung. Well, sedikit berbekal tentang adab ilmu, saya ingin mencoba menjawabnya dengan pemahaman yang ada.

NICE HOMEWORK#1

ADAB MENUNTUT ILMU

1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.
    Benar-benar pertanyaan yang membutuhkan perenungan dalam. Hampir seharian mengolah jawabannya. Bismillah, ilmu yang ingin saya tekuni adalah ilmu pengembangan kualitas diri. Begitu banyak keterampilan dan hobi yang ada didiri saya yang terbengkalai begitu saja selama sibuk dengan pekerjaan kantor. Insha allah saya berkeyakinan bila diasah dan dilatih kembali dengan sungguh-sungguh akan banyak bermanfaat bagi yang lain, terutama orang-orang terdekat.

2. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.
        Insha allah saya ingin bermanfaat bagi orang lain, terutama bagi keluarga. Saya ingin bisa berbuat banyak untuk membantu suami dalam mencari nafkah terutama setelah resign baru-baru ini. Buat anak yang biasanya banyak mencicipi makanan diluar, mulai dibiasakan mencicipi jajanan ala ibunya. Hobi menulis dan membaca yang mulai dibiasakan kembali, berharap menular pada anak khususnya dan semoga bisa menyebarkan banyak manfaat lewat tulisan-tulisan. aamiin.

3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
    - bergabung dengan komunitas
    - mengikuti pelatihan-pelatihan online maupun offline
    - tukar pikiran dengan teman
    - banyak membaca dari buku dan internet
    
4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.
    - lebih selektif menerima ilmu terutama dari internet
   - mendisiplinkan diri dalam hal waktu. harus bisa mengatur waktu dengan baik tentunya agar tugas utama sebagai istri dan ibu tidak terbengkalai
      - insha allah lebih meningkatkan ibadah
      - lebih disiplin dalam membuat catatan


    yah,  seperti inilah hasil perenungan yang saya pikir masih belum maksimal. semoga bisa konsekuen dengan hasil pemikirannya, dan bisa menimba ilmu sesuai dengan tujuan yang dimaksud. its really nice homework for me 😊.