Jika kamu jadi orang tua, mau memilih yang mana? Memiliki anak yang aktif dan senang bermain di luar rumah, atau anak yang anteng bermain di depan gadget? Bukan hal aneh bila kebanyakan orang tua zaman sekarang lebih senang dan tenang anak-anaknya bermain gadget. Dengan alasan lebih mudah memantau anak, para orang tua seolah berlomba memanjakan mereka dengan berbagai kecanggihan teknologi. Padahal, pada dasarnya anak-anak adalah homo ludens, atau makhluk yang senang bermain. Jadi, akan lebih baik bila mereka dikondisikan berdasar jati diri yang sebenarnya.
Selasa, 30 Juli 2019
Rabu, 12 Juni 2019
Membaca Bersama Hayu Maca
Pernah tidak merasa jengkel karena anak sulit
diarahkan untuk membaca? Pengalaman itu jelas terjadi pada diri saya dan anak-anak,
terutama ketika anak masuk usia sekolah. Ketika mereka sekolah usia dini,
permasalahan membaca tidak begitu membebani kami. Akan tetapi, ketika masuk
sekolah dasar, membaca jadi suatu hal yang begitu rumit bagi kami, terutama
bagi anak kedua saya.
Seperti diketahui, pola belajar anak bisa dilihat
dari lima macam gaya, seperti :
a.Gaya Belajar
Visual, kemampuan belajar dengan
melihat
b.Gaya
Belajar Auditori, kemampuan
belajarnya lebih baik dengan mendengarkan.
c. Gaya
Belajar Kinestetik, gaya belajar
dengan melibatkan gerak.
d.Gaya
Belajar Global, anak dengan gaya
belajar ini memiliki kemampuan untuk memahami secara menyeluruh.
e.Gaya
Belajar Analitik, gaya belajar
yang memiliki kemampuan meneliti atau menelaah terlebih dahulu secara spesifik
dan teratur.
Minggu, 05 Mei 2019
Persiapan Ramadan
Entah kenapa hari ini terasa begitu penat. Kamar yang biasanya nyaman sama sekali tidak membantu menyamankan hati. Ide-ide yang biasanya muncul bergantian lenyap begitu saja. Otak ini sama sekali tidak dapat dipakai untuk berpikir. Kembali godaan untuk minum obat menggelitik. Untungnya bisa kutepis dan meyakinkan diri kalau menulis adalah proses pengobatan yang terbaik.
Minggu, 07 April 2019
Mandiri Dengan Berbagi
Siapa sih, yang tidak takut menjadi single mom? Saya pun sampai sekarang
masih saja belum terbiasa dengan predikat baru yang harus disandang ini.
Menjadi orang tua tunggal dan harus menghidupi anak-anak, sepertinya, masih
menjadi hal menakutkan bagi para wanita. Hal itu terjadi pada diri sendiri. Tiba-tiba
saja semua berpindah ke pundak yang lemah ini, dan saya harus pura-pura kuat
menanggung semuanya.
Tidak ada yang salah menjadi single mom. Yang salah adalah cara kita
menghadapi masalah yang diakibatkan predikat ini. Ketidakmandirian ibu rumah
tangga, selalu jadi pemicu awal ketika tiba-tiba menjadi sendiri. Ketika,
biasanya segala sesuatu disuplai oleh pasangan, lalu, secepat kilat perubahan
terjadi pada saat si wanita harus menjadi penyuplai. Gelagapan pastinya, kalau
si wanita benar-benar polos tidak ada pengalaman mendulang uang sebelumnya, dan
itu menakutkan. Seperti itulah, yang terjadi pada diriku, pada keluarga kami.
Semua jadi kacau, ketika sebuah perpisahan tidak dapat dihindarkan lagi.
Langganan:
Postingan (Atom)
