Minggu, 07 April 2019

Mandiri Dengan Berbagi


            Siapa sih, yang tidak takut menjadi single mom? Saya pun sampai sekarang masih saja belum terbiasa dengan predikat baru yang harus disandang ini. Menjadi orang tua tunggal dan harus menghidupi anak-anak, sepertinya, masih menjadi hal menakutkan bagi para wanita. Hal itu terjadi pada diri sendiri. Tiba-tiba saja semua berpindah ke pundak yang lemah ini, dan saya harus pura-pura kuat menanggung semuanya.

            Tidak ada yang salah menjadi single mom. Yang salah adalah cara kita menghadapi masalah yang diakibatkan predikat ini. Ketidakmandirian ibu rumah tangga, selalu jadi pemicu awal ketika tiba-tiba menjadi sendiri. Ketika, biasanya segala sesuatu disuplai oleh pasangan, lalu, secepat kilat perubahan terjadi pada saat si wanita harus menjadi penyuplai. Gelagapan pastinya, kalau si wanita benar-benar polos tidak ada pengalaman mendulang uang sebelumnya, dan itu menakutkan. Seperti itulah, yang terjadi pada diriku, pada keluarga kami. Semua jadi kacau, ketika sebuah perpisahan tidak dapat dihindarkan lagi.


            Mandiri, itulah yang harus ditanamkan pada pikiran setiap wanita. Baik yang telah menikah ataupun masih sendiri. Walaupun mencari uang bukanlah kewajiban seorang istri, tapi ada baiknya si istri memiliki pengalaman mencari uang. Tentunya kewajiban di keluarga tidak mengharuskan seorang wanita mencari uang keluar rumah. Masih banyak hal yang bisa dilakukan dari rumah, seperti:

-Memiliki usaha catering, bisa dimulai dari kecil-kecilan dahulu.
-Membuka warung.
-Menjual pakaian anak.
-Membuat kue kering dan basah.
-Jualan di media sosial, semua usaha bisa dipromosikan lewat media sosial.
-membuka pembayaran listrik, menjual pulsa, dan lain sebagainya.

Banyak usaha mendulang uang yang bisa dikerjakan dari rumah. Lebih baik lagi apabila mengerjakan hobi yang bisa menghasilkan. Seperti menulis, menjahit, membuat kerajinan, memasak, dan lain-lain.

            Menghasilkan dari rumah merupakan salah satu cara membantu perekonomian keluarga. Rumah dan anak-anak masih bisa terurus, dan pasangan kita pun akan senang karena istrinya memiliki kegiatan positif yang bisa meringankan bebannya. walaupun perekonomian rumah tangga telah mapan, istri masih bisa tetap produktif, dengan hasil usaha yang dialokasikan untuk menambah pundi-pundi simpanan. Jadinya, ketika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, seperti perceraian atau berpulangnya pasangan, kita sebagai wanita tidak terkejut dengan perubahan tersebut. Bisa dikatakan, pengalaman dalam mencari peluang financial selama pernikahan akan banyak membantu ketika harus berpredikat single mom.

            Jujur, kemandirian adalah kata yang langka dalam kamus saya ketika masih berumahtangga. Sumber penghasilan mutlak hanya dari satu pos, yaitu gaji suami. Waktu itu, saya belum mengenal media sosial sedekat sekarang, otomatis sama sekali tidak ada niatan untuk mempromosikan apapun di media itu. Alhasil,  ketika pernikahan saya tidak bisa lagi dipertahankan, terjadilah kelimbungan perekonomian yang luar biasa. Saya  benar-benar tidak tahu cara mencari uang selain dari mencari pekerjaan, dan hal itu sangat membutuhkan kesabaran. Saya sempat berbulan-bulan mencari pekerjaan ke sana-sini, dan nyaris putus asa.

            Kebiasaan kami menyisihkan penghasilkan untuk membersihkannya di donasi.dompetdhuafa.org pun jadi tidak bisa dilakoni lagi. Terus terang hal itu sempat membuat saya terpukul, ketika biasanya kami yang bersedekah, tiba-tiba harus berputar menjadi penerima sedekah. Yah, saya dan anak-anak menerima belas kasihan dari anggota keluarga lainnya. Hal itu membuat saya merasa jadi orang yang tidak berguna. Apalagi ketika memulai dagang kecil-kecilan pun harus diberi modal oleh mereka. Terpuruk secara financial dan mental, membuat saya ingin segera mendapatkan pekerjaan. Akan tetapi, hal itu pun membutuhkan kesabaran. Banyak lamaran yang dilayangkan, dan pernah dipanggil wawancara beberapa kali, tapi dewi fortuna masih  belum berpihak pada saya. Sedih sekali harus melihat anak-anak hidup serba kekurangan, bahkan untuk pergi ke puskesmas pun, saya harus berpikir berulang kali.

            Kemudian, putus asa menghampiri saya setelah berbulan-bulan tidak juga mendapatkan pekerjaan, dan keuangan pun semakin parah. Apalagi sebentar lagi anak sulung harus mulai masuk sekolah dasar. Segalanya terlihat gelap, saya merasa terbatasnya keahlian yang dimiliki menjadi kendala sulitnya mencari pekerjaan. Menangis berhari-hari pun jadi pelampiasan waktu itu. Hingga suatu hari saya disadarkan pada sebuah kenyataan, bahwa Allah sedang memberikan ujian untuk meningkatkan kualitas keimanan. Dengan kesadaran yang datang itu, saya pun berpasrah diri pada Yang Maha Kuasa. Saya sadar, semua ketentuan ada di tangan-Nya, Dia yang akan menolong dan membukakan semua pintu yang seolah masih tertutup.

            Bersamaan dengan kesadaran itu, saya kembali menelaah ilmu berbagi yang selama ini dilakoni. Ilmu yang saya dapat dari pengalaman hidup, buku-buku agama juga dari web www.dompetdhuafa.org. Saya berkeyakinan, memaafkan diri sendiri dan berdamai dengan masa lalu adalah sedekah saya pada diri sendiri. Memaafkan semua yang terjadi, memaafkan semua orang, mengikhlaskan semuanya atas nama peningkatan kualitas keimanan. Ternyata, hal itu sangat membantu. Saya menjalani hari demi hari dengan hati yang ringan karenanya. Segala kekecewaan karena tidak bisa berbagi materi dengan yang membutuhkan, saya alihkan dengan sedekah yang tidak bernilai materi. Saya mulai membiasakan diri tersenyum dan menyapa orang-orang di pagi hari, sambil mengantarkan camilan ke warung-warung tentunya.

            Lalu, keuangan pun benar-benar di ujung tanduk. Saya tidak memiliki uang sepeser pun waktu itu. Akan tetapi, kembali kepasrahan pada Tuhan yang menguatkan. Saya berprinsip, masih ada tenaga yang masih bisa dimanfaatkan untuk berbagi. Semuanya kemudian berputar ketika adik perempuan melahirkan seorang bayi laki-laki. Karena keinginan yang begitu dalam untuk membantu dan menyenangkan adik, saya pun sampai ikut menginap di rumah mertuanya untuk menemani. Seminggu pun dihabiskan untuk membantunya merawat bayi yang baru dilahirkan. Waktu itu, saya tidak memikirkan upah atau bentuk terima kasih lainnya. Benar-benar hanya untuk menjalankan ilmu berbagi yang saya maknai saja.

Berbuat baik itu seperti menanam pohon, ia akan tumbuh dan berbuah ranum pada waktunya.

            Ternyata Allah, berkehendak lain, Dia Yang Maha Adil, Maha Penyayang. Tiba-tiba, perubahan besar terjadi pada kami sekeluarga. Pada saat awal tahun ajaran baru datang, sebuah panggilan untuk wawancara pun datang. Ternyata, itu panggilan dari lowongan yang sudah empat bulan terkirim. Keajaiban pun mulai terjadi, wawancara itu tidak pernah ada. Saya hanya diajak berbincang mengenai pekerjaan yang akan dilakoni, dan diberi nasehat seputar dunia kerja saja. Kemudian, keesokan harinya dipersilahkan datang ke unit untuk mulai bekerja. Ajaibnya, anak sulung saya diterima sekolah di tempat saya bekerja dengan biaya yang benar-benar ringan. Karena status saya sebagai karyawan, maka banyak fasilitas lain yang didapatkan anak-anak untuk sekolah di tempat itu. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Kemudahan yang saya alami sesuai sekali dengan peribahasa tersebut. Sungguh Allah benar-benar Maha Pengasih dan Penyayang.

            Pengalaman demi pengalaman, menjadikan momen berbagi adalah waktu yang sangat dinantikan oleh diri ini. Bahkan, Ustad Yusuf Mansyur pun pernah diberikan banyak kemudahan yang tampaknya mustahil—setelah ia bersedekah roti pada semut-semut di ruang tahanannya.

Sayangilah yang di bumi, maka langit pun akan menyayangimu

            Kata-kata di atas selalu jadi acuan saya dalam bertindak di dunia saat ini. Hal yang paling saya pegang teguh hingga saat ini adalah, sedekah tidak selamanya harus bernilai materi. Ada banyak macam cara kita berbagi tanpa harus mengandalkan nominal ataupun benda-benda lainnya. Ternyata, dengan berbagi hidup ini terasa lebih nyata dan berwarna.


sumber dokumen pribadi



Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa


96 komentar:

  1. Waw.... sangat tersentuh banget ini. Jadi keinget nih,harus banyak sedekah.

    BalasHapus
  2. Mashaa Allah menginspirasi pisan teh, sebagai self remainder juga :')

    BalasHapus
  3. Kereen,, mdh2n jd inspirasi bagi smw orang teruatama kita kaum hawa

    BalasHapus
  4. Keren, sangat menginspirasi untuk saling berbagi

    BalasHapus
  5. Langsung tertegun begitu baca tulisan teteh, memang betul kemandirian harus dimiliki setiap individu karena kita gak pernah tahu apa yang akan kita hadapi. Thanks for sharing ya teh :)

    BalasHapus
  6. Menginspirasi sekali teh , terimakasih sudah diingatkan. Memang kalo kita ikhlas,pasrah semua yg terjadi karna Allah.. Allah akan ganti dari arah yg tak diduga :)

    BalasHapus
  7. Ya ampun tersentuh banget bacanya, Mbak. You are a strong woman. Menginspirasi banget.

    BalasHapus
  8. the power of berbagi ya mbak. Semangat mbak..wanita memang tetap harus belajar mandiri, setuju mbak. Dikau luar biasa, sukses selalu mbak :)

    BalasHapus
  9. bener banget teh.. aku dulu sempet buat makaroni digoreng dan di bumbuin terus aku jual di sekolahan adik aku wkwkwk saking mandiri nya

    BalasHapus
  10. Jalan hidup siapa yang tau ya teh, i know how do you feel..
    tapi itu cara Allah untuk menaikkan derajat teteh :')

    BalasHapus
  11. Setuju, pokoknya apa yang kita tuai itu yang kita tanam. Bisa mandiri untuk berbagi itu keren banget. Barakallah.

    BalasHapus
  12. Masyaallah merinding Mbak bacanya. Namun sayangnya, adakalanya justru ada jrnis suami yang lebih menyukai sang istri bergantung padanya, tanpa memikirkan kemungkinan ini.

    BalasHapus
  13. Semangat moms... Semiga makin sukses yaaa.., keren tulisannya

    BalasHapus
  14. setelah baca artikel ini aku tersadar mungkin selama ini aku terlalu bakhil, mulai sedekah minggu ini

    BalasHapus
  15. So inspiring Teteh satu ini
    Setuju banget kalo perempuan harus mandiri aku pun belajar mandiri sedari remaja

    BalasHapus
  16. Alhamdulillah aku dari kecil udah di didik mandiri. Sampe skrg sih apa2 sendiri. Inspiring banget, udah dr lama pgn sedekah bagi2 makanan tapi selalu aja ada halangan.. Semoga ba semakin rajin berbagiiii ❤️

    BalasHapus
  17. Semangat terus teteh dan anak anak.. insyallah Allah ga akan memberikan cobaan melebihi yang kita bisa yah. Kuat terus

    BalasHapus
  18. aku bersyukur sih kalo suami malah sangat mendukung karirku. mungkin krn kita pernah kerja sama2 di bank yg sama, dia tau seberapa hecticnya krjaanku yg kdg memaksa pulang malam. tp tetep dia mendukung. jujur aja prnh lah kepikiran resign. kdg capek, tp kemudian terpikir, sanggub ga sih kalo aku bener2 stay at home. kerjaan di rumah itu malah lbh berat drpd kantor. dan tanpa menerima gaji, bonus plus benefit2 yg selama ini aku trima. sanggub ga yaaa.. dan akhirnya, aku sadar ga bakal sanggub. makanya msh bertahan berkarir di kantor yg skr :)

    ttg sedekah, bener banget mba. dari dulu papa selalu bilang, sedekah, infaq, zakat, jgn pernah lupa. itu beka kita di hari akhir. jgn harapkan kemudahannya skr, biarlah itu jd investasi kita saat meninggalkan dunia. tp tetep aja aku ngerasain banyak kemudahan yg aku trima dgn rutin berzakat, membiayai bulanan anak asuhku.. cthnya di karir. aku ga pinter2 amat dan ga ambisius kok. tp kayaknya lempeng aja jalan menuju posisi yg skr. padahal aku sadar banyak yg jauuh lbh capable dr aku. semuanya itu aku pikir krn berkat dr sedekah, sharing, zakat dan lainnya :).

    BalasHapus
  19. Pengingat banget ini mba, thanks udah nulis ini :)

    Sejak berhenti kerja saya jadi selalu lupa berbagi, karena emang udah jarang keluar, makanya rezeki seret yak huhuhu

    Tapi bersyukur, meski di rumah aja, mampir ke tulisan-tulisan kayak gini, jadi sebagai pengingat agar saya nyalain reminder di hape buat jadwal berbagi biar ga lupaan mulu :)

    BalasHapus
  20. Alhamdulillah rezeki memang datangnya dari ceruk yang tak disangka-sangka ya mbak. Takdir Allah memang sesuai dengan prasangka hambanya. Semangat mbak!!!

    BalasHapus
  21. Salah satu ciri orang munafik itu kalau dia merasa berat mengeluarkan uang untuk sedekah, seberapa pun jumlahnya (mau banyak atau sedikit). Berbagi ya memang nggak mesti sedekah, tapi sedekah itu yang utama bagi ummat Islam untuk membersihkan hartanya (selain zakat yang wajib, tentunya). Hal apa pun bisa, hal kecil kayak senyum kan ada sunnahnya juga. Bener kata mbak, semua kudu balik lagi ke niat. Sebab yang dinilai Allah itu niat dan cara yang benar (sikap yang beradab, sopan santun pas ngasih sesuatu/berbagi apa aja).

    BalasHapus
  22. Sharing kehidupan yang menginspirasi Mbak, mengingatkan saya harus tetap belajar memberi dari kekurangan kita, saat kita ga punya apa-apa (materi), ada banyak hal lain yang bisa dibagikan ke sekitar :)

    BalasHapus
  23. Tetap semangat dan jangan lupa bersyukur, Mbak! Aku sendiri belum ada bayangan bagaimana kehidupan menjadi single mom, tapi kuyakin, teman2ku yang di-qodar menjadi single Mom, berarti seorang wanita kuat dan tangguh yang siap fight. :)

    BalasHapus
  24. Aduh saya merasa tersentil baca ceritanya mba, terkadang diriku bersedekah setengah hati dan rasa mandiri di dalam diriku pun kurang, thx sharingnya mba, selalu semangat yah :)

    BalasHapus
  25. masya Allah, begitu ya karunia Allah itu tahu-tahu dipanggil wawancara eh malah diajak ngobrol, trus anak keterima sekolah di tempat yang sama.

    BalasHapus
  26. Mba, aku terharu banget apalagi pas sampai di bagian ini:

    "... sayangilah yang di bumi, maka langit pun akan menyayangimu!"

    Sepakat, mba.
    Sedekah itu tidak melulu soal materi. Melakukan kebaikan apapun, sekecil apa pun, seremeh apapun pastilah bermanfaat, di dunia dan akhirat.

    Bersedekah juga tidak harus menunggu cukup atau kaya, karena itu tadi, bersedekah bukan melulu soal materi

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama, aku juga masih sering mengingatkan diri

      Hapus
  27. speechless sekaligus terharu membacanya, Mbak. Saya sering mendengar kata keajaiban sedekah. Ya mungkin ini salah satu keajaiban yang ditunjukkan melalui kisah nyata. Bikin saya sebagai pembaca jadi terpicu untuk terus semangat bersedekah

    BalasHapus
  28. Setuju mba... Berbagi buat hati menjadi bahagia, damai dan tenang. Berbagi kebahagiaan itu slh satu habit yg hrs kita jaga ya. Alhamdulillah skrg ada dompet dhuafa yang bisa menyebarkan kebaikan lbh luas

    BalasHapus
  29. Alhamdulillah dengan berbagi ada rasa bahagia tentunya ya mba. Quote terakhirnya saya suka!

    BalasHapus
  30. Sangat menginspirasi, setuju dengan kalimat sayangilah bumi maka langit akan memelihara dan menyayangimu. Tetaplah berbuat kebaikan karena saat ini mulai minim kata kebaikan di muka bumi ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga masih sering mengingatkan diri,mbak

      Hapus
  31. Duh kisahnya sangat menyentuh sekaligus menginspirasi Mba. Tetep semangat ya, Mba. Jangan pernah putus asa, dan gapai kesuksesan dan kebahagiaan itu. Ganbatte!

    BalasHapus
  32. Empat bulan, nggak nyangka banget, ya. Bahkan bisa keterima tanpa wawancara. Alhamdulillah banget, ya, Mbak.

    BalasHapus
  33. Saya juga sudah merasakan bagaimana keajaiban sedekah
    Saya dan suami selalu yakin bahwa Tuhan tidak menghidupkan kami kalau memang rezekinya sudah tidak ada.

    BalasHapus
  34. Mbaa kisahmu sangat menyentuh. Alhamdulillah kuat menghadapi kondisi berat yg saat itu terjadi ya. Semoga dirimu dan anak2 selalu baik2 saja dalam lindungan Allah. Berbagi memang bikin bahagia, plus mendatangkan berbagai keajaiban yang tidak terduga.

    BalasHapus
  35. BErserah diri pada Tuhan sambil terus berusaha ya mbak, Allhamdulillah bisa mendapatkan jalan yang terbaik. Allah maha baik dan maha tahu diberikan pekerjaan yang sesuai termasuk anak-anak yang bisa seklah di sana. Tetap semangat ya mbak

    BalasHapus
  36. Subhanallah... Semoga Allah senantiasa memberi kekuatan lahir batin untuk mbak sekeluarga. Setuju banget mba .berbagi itu seperti menanam tanpa kita sadari. Barakallah mba...

    BalasHapus
  37. Baca blog ini jadi seakan mengingatkan lagi untuk bersedekah ya. Btw setuju banget sedekah tidak sellau dengan uang juga tapi bisa yang lainnya.

    BalasHapus
  38. Bismillah ya Mba inspirasi pagi. Semoga terus kita dimudahkan dalam berbagi.
    Apalagi Allah akan memberikan yang lebih lagi.

    BalasHapus
  39. Barakallahu fiik, teh Yola.
    Jadi semakin semangat berbagi.
    In syaa Allah manfaatnya akan balik lagi ke kita.

    BalasHapus
  40. Barakallahu fiik, teh Yola.
    Jadi semakin semangat berbagi.
    In syaa Allah manfaatnya akan balik lagi ke kita.

    BalasHapus
  41. Kuotnya bagus banget mba. Sayangilah yang di bumi. Bener juga yaam

    BalasHapus
  42. Semangat berbagi memang harus ditanamkan sejak dini ya mba. Saya percaya dengan the power of sadaqah. Sungguh kontan dibalas oleh-Nya ya mba

    BalasHapus
  43. Subhanallah...
    pengalaman ini kayaknya nggak akan bisa dilupakan ya mbak...
    semoga jadi penguat mbak dan keluarga untuk menghadapi ujian suka dan duka di masa depan.
    aamiin

    BalasHapus
  44. Teringat masa kecilku.. orangtua aku selalu mengajarkan untuk berbagai, walaupun kami bukan dari keluarga yang mampu, tapi orangtua aku yakin bahwa dengan berbagi, InshaAllah akan ditambah rezeki yang kita miliki.. saya yakin dan percaya akan kekuatan berbagi hingga saat ini.. program dari dompet dhufa ini sudah sangat bagus, semoga banyak yang tertarik untuk mengikuti program ini ya mba

    BalasHapus
  45. Wuihh, rame di sini...saya ketinggalan nih

    BalasHapus
  46. Siapapun tidak pernah berharap untuk menjadi single parent, tapi kita harus siap dengan kemungkinan seperti itu.

    Saya tersentuh dengan soal sedekah itu tidak harus beruba materi, senyum pun sebenarnya sedekah

    BalasHapus
  47. Ibu yang cerdas..sangat terinspirasi, mksh mba tulisan hebat..😇

    BalasHapus
  48. alhamdulillah, makasih mbak

    BalasHapus
  49. Kisah yang sangat menginspirasi. Terima kasih sudah sharing.
    Saya jadi terharu dan sangat mensyukuri bersama istri dan anak anak yang selalu mendampingi.
    Semoga Teh Yola selalu menemukan kebahagiaan. Jangan lupa terus Mandiri, usahanya dilanjutkan. Berwiraswasta.

    BalasHapus
  50. teringat saya juga dari satu sumber tp saya gak mau diem aja tetap berusaha mencari penghasilan sampingan tanpa perlu meninggalkan rumah

    BalasHapus
  51. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus