Aila bergegas menyuapkan sendok terakhir. Mendung mulai menyergap sore. Lima menit saja dia bertahan di tempat itu, sudah dipastikan akan tertahan hujan.
"Neng, tunggu sampai hujannya turun saja!" Cegah si penjual bubur ketika melihat Aila beranjak dari bangku.
Aila menggeleng berterima kasih. "Doakan saja tidak kehujanan, Pak!"
Tanpa menunggu jawaban lagi, Aila melangkahkan kaki ke sebuah gang. Lorong gang itu terlihat panjang tak berujung. Entah karena pengaruh aura hujan di penghujung hari, atau mungkin hanya perasaannya saja. Aila merapatkan jaketnya, berjalan dengan langkah diatur, berusaha agar tidak menginjak air yang mulai membentuk genangan-genangan kecil. Hujan mulai berkamuflase menjadi jarum-jarum ukuran besar. Membuat bentuk sempurna kain kerudungnya jadi tak beraturan.
"Neng! Kenapa hujan-hujanan?" Tiba-tiba seorang bapak yang tengah menyapu air hujan di terasnya menegur.
Aila terkesiap. Jauh di pikirannya, akan ada orang di pekarangan rumah di saat hujan mulai menderas.
"Mau pakai payung, Neng?" Bapak itu bertanya kembali, tanpa memberi kesempatan Aila menjawab tegurannya yang pertama.
Aila tercenung, langkahnya melambat. "Terima kasih, Pak. Biar nanti saya berteduh saja di depan, "jawab Aila. Masih tak habis pikir, bagaiman bapak itu bisa bermurah hati pada orang yang tak dikenalnya.
Melempar senyum sebagai tanda terima kasih pada kebaikan bapak itu, Aila mempercepat langkahnya. Lorong gang itu masih terlalu panjang dan jauh baginya. Entah dia akan bisa berteduh dengan 'selamat' entah tidak di tengah curah hujan yang memadat itu. Semakin ujung lorong mendekat, semakin butiran hujan membesar. Dan hujan pun turun dengan lebatnya, tepat ketika Aila menjejak teras sebuah taman kanak-kanak.
Pintu taman kanak-kanak terbuka. Tapi tak tampak seorang pun di dalamnya. Sementara itu hujan semakin deras. Beberapa orang berlalu di depan TK begitu saja tanpa ada niat untuk berteduh. Padahal debit air hujan telah membuat genangan air yang cukup tinggi di gang kecil itu.
Tiba-tiba Aila dikejutkan sebuah suara. "Neng, di sini saja berteduhnya!" Seorang bapak tua di seberang TK menyapa.
"Terima kasih, Pak!" Aila tersenyum. Namun bergeming di tempatnya. Ada rasa risih menerima ajakan bapak itu.
"Ayo sini, Neng!" Ajaknya lagi. Dibukanya pintu pagar rumahnya. Ia mempersilahkan Aila untuk masuk dan berteduh. Melihat Aila tetap bergeming, bapak itu akhirnya masuk ke dalam rumah.
Aila merasa kurang enak ikut berteduh di rumah orang yang sama sekali tak dikenalnya. Walau ia akui udara dingin mulai menyergap seluruh tubuhnya.
"Neeng ... ayo siniii!" Tiba-tiba seorang ibu memanggilnya. Rupanya bapak tua itu memanggilnya istrinya untuk mengajak Aila berteduh.
Aila tersenyum. Mau tak mau ia membiarkan kakinya menyebrangi gang kecil itu dan masuk ke pekarangan rumah mereka.
"Duh, Bu ... saya jadi merepotkan nih." Ucap Aila sambil menyalami mereka.
Ibu pemilik rumah itu tertawa renyah. Aila kemudian dipersilahkan duduk di kursi yang ada di teras rumah itu. Rumah yang nyaman, entah mengapa--meja dan kursi di teras itu seolah sengaja disediakan untuk sering diduduki.
'Pasangan yang ramah, 'Aila membatin. Mereka bertiga terlibat pembicaraan ringan sampai tak terasa waktu menunjukkan magrib. Hujan tampaknya belum mau bersahabat di senja itu. Curahnya mulai berkurang, tapi tetap meneteskan air yang cukup padat.
"Bu ... Pak, sepertinya saya harus pamit sekarang, "Aila berpamitan pada mereka.
"Tadinya, Neng mau bapak ajak ngaji bareng sama anak-anak ...," timpal bapak pemilik rumah.
Sementara itu anak-anak mulai berdatangan. Hujan rupanya tak menyurutkan mereka untuk mengaji. 'Subhanallah, 'Aila bertasbih--terharu.
"Lain kali, Insha Allah Pak, "Aila tersenyum.
Ibu pemilik rumah bergegas menyalami Aila. "Neng, ini pakai saja payungnya. Hujannya masih lebat!" Sambil menyodorkan payung ke tangan Aila.
Entah apa yang tengah Allah ceritakan pada Aila hari itu. Ia hanya bisa tersenyum terharu menerima kebaikan mereka.
"Besok pagi saya kembalikan Bu, "terbata menahan haru dan dingin--Aila menerima payung itu.
"Assalammu'alaikum..., "Aila mengucapkan salam, berpamitan.
Menjejak langkah di genangan yang memenuhi jalan--Aila terpana akan keindahan ikhlas. Mungkin bagi pasangan tua itu hanya sekedar memberi tempat berteduh dan meminjamkan payung saja. Tapi bagi Aila itu serupa oase di kegersangan hati.
Hujan sore itu memberi begitu banyak cerita. Mulai dari awal hingga akhir lorong gang. Ditegakkan wajahnya, menembus rintik padat hujan--menatap langit. Memuja Sang Pencipta dan para malaikatnya. Dan rindu itu membuncah. Rindu dimana ia berdua saja dengan Sang Maha Pengasih. Aila--dan hujan di penghujung senja.
Bandung 010318
Kamis, 01 Maret 2018
Selasa, 27 Februari 2018
Kisah Sebuah Suvenir
Evi menatapku lekat. Jelas sudah ia tak puas dengan 'kencan' perdana kami di malam minggu ini. Jenuh mulai merambati wajahnya.
"Oke, kemana lagi kita?" Tanyaku menimpali pandangan kesalnya. "Cari makanan, yuk!"
Lagi-lagi sorot matanya menolak ideku. Evi memang seperti itu, terbiasa mandiri dengan pola pikirnya sendiri.
"Mending ke Pasirkoja, yuk! Ke rumah temanku saja. Besok hari pernikahannya. Jaga-jaga saja, kalau aku tidak bisa datang besok, " ajaknya kemudian.
'Nah, ini dia ... kalau sudah ke rumah temannya, yah sudahlah ....' batinku mengeluh diam-diam.
Akupun mengangguk sambil lalu. Menonton raut wajah senang karena menang. Yah, pada akhirnya mau tak mau penumpang harus mengalah pada pengemudi bukan? Selalu seperti itu akhirnya setiap kami pergi berdua.
******************
"Jangan katakan kamu lupa rumahnya!" Sorotku tajam.
Evi tertawa renyah. Bagi dia mungkin lucu, tapi tidak bagiku. Dan hari ini terulang lagi, ketika pada akhirnya kami harus berulang kali turun dari motor dan menanyakan alamat. Akhirnya dengan peluh di wajah, kami berhasil menemukan tujuan yang di maksud.
Ruang tamu itu telah beralih fungsi. Sensasi berantakannya sama sekali tak mengganggu. Aku senang dengan segala ornamen yang tergeletak di karpet. Yang menumpuk di kursi tamu. Yah, tercium aroma pesta pernikahan yang sangat di ruang itu. Senang hati, 'ku duduk di antara taburan suvenir di karpet.
"Silahkan pilih ... silahkan pilih hahaha ..., "Evi tertawa riang.
Ternyata ia pun merasakan sensasi yang sama denganku. Pesta pernikahan sangat agung bagi kami para wanita. Tak lama kemudian pengantin wanita berbaur, ikut tertawa senang bersama kami.
"O, ya, kenalkan ini Aila .... teman teteh, "ucap Evi kemudian.
Aku menyambut senyum si pengantin. Senang sekali melihat wajah bersinarnya. Entah kenapa aura pengantin wanita selalu tampak lebih cantik.
"Jangan lupa pisahkan bunga melatinya untuk Evi, Dek! Ucapku. Mataku menggoda Evi yang pura-pura tak mendengarkan.
Ica tergelak melihat canda kami. Dengan cekatan ia mengeluarkan suvenir-suvenir yang belum di bungkus.
"Ayo teteh, pilih saja!" Dengan baik hatinya ia menebarkan suvenir-suvenir itu di karpet.
"Awas Ailaa ... dua saja yah! Jangan banyak-banyak!" Evi menggodaku yang tengah asik memilah.
Pura-pura tak mendengarkan aku kosentrasi memilih. 'Ini menyenangkan!' Aku memang sedang membutuhkan bros untuk mempercantik kain kerudung. Dan karena kebaikan hati Ica, aku mendapatkan yang diidamkan. Bros bunga kain berwarna putih tulang. Warna netral yang senada dengan warna wajahku.
**********************
Trans Studio Mall selalu terlalu luas untukku. Dan sore itu ia tampak mewah di latar langit mendung. Hari itu, dengan kostum santai terbaikku. Lengkap dengan bros hadiah dari pengantin. Sengaja aku mampir di pusat perbelanjaan itu sekedar melepas penat. Tiba-tiba alunan azan menyadarkanku. Bergegas aku menuju lantai tiga.
"Mukenanya dipinjam semua, Teh, "penjaga penitipan barang itu menjawab pertanyaanku.
Entah sudah berapa kali aku meninggalkan perlengkapan terpenting itu di rumah. Akhirnya terpaksa aku mengantri. Dan sama sekali tak senang melakukannya. Tak senang, karena sewaktu 'berburu' mukena berarti aku harus hati-hati jangan sampai melewati yang tengah sembahyang.
Mengantri mukena dan sekarang mengantri cermin. Wanita dengan feminismenya yang kuat seringkali membuatku kesal. Menurutku yang cenderung asal-asalan dalam penampilan, mengantri cermin adalah hal konyol. Dan semakin terasa konyol lagi ketika belum semenit bercermin, ada belasan pandangan mengantri yang menusuki punggung. Jengah rasanya, ketika tengah bergelut dengan peniti diadili oleh tatapan kesal.
"Teh, maaf ... ada jarum lebih gak yah? Punyaku hilang, "tegur seseorang.
Aku meneliti pantulan bayangannya di cermin. Jelas- jelas pemandangan yang membuat kasihan. Berdasar pengalaman, kehilangan jarum itu sangat memicu adrenalin. Wanita berkerudung hijau itu menatap penitiku penuh harap.
"Ini ... pakai bros ini saja, Teh! Aku memungut bros putih tulangku dari karpet mushola.
Memang sengaja kuletakkan di situ. Aku mendadak tak bisa berpikir, gara-gara sejumlah pandangan kesal yang tengah mengantri cermin.
"Eh, jangan bros itu Teeh ... kan itu punya Teteh. Gak enak Saya, "tolaknya.
"Gak apa-apa, Teh ... pakai saja! Bujukku meyakinkan.
Rupanya ia bimbang antara mau dan tak mau. Dan akhirnya menyerah pada kenyataan. Karena toh memang ia lebih membutuhkannya daripada aku.
"Barakallah Teh ... terima kasih banyak!" Wanita itu memunggungi cermin. Tersenyum indah padaku.
Entah mengapa, aku seperti melihat aura si pengantin teman dari temanku itu di wajahnya. Aku hanya balas tersenyum padanya. 'Ah, hanya sebuah bros suvenir saja dipermasalahkan.' Dan ketika aku berbalik--seketika 'ku sadari bahwa ternyata itu bukan hanya sekedar bros. Senyum-senyum ramah menyapaku. Rupanya antrian 'pandangan kesal' itu telah berubah haluan. Senyum mereka seolah sepakat berkata, bahwa itu bukan hanya sekedar bros.
Dengan kain kerudung polos tanpa hiasan aku pun keluar dari mushola. Sekilas kulihat wanita berkerudung hijau itu tertawa bersama teman-temannya. Ia tampak cantik dengan bros putih tulangnya. Mungkin seperti 'cantik' yang pernah terpahat sejenak di wajahku juga. 'Cantik' yang ditularkan si pengantin pada bros suvenir pernikahannya.
Bandung
Cerita hari minggu
"Oke, kemana lagi kita?" Tanyaku menimpali pandangan kesalnya. "Cari makanan, yuk!"
Lagi-lagi sorot matanya menolak ideku. Evi memang seperti itu, terbiasa mandiri dengan pola pikirnya sendiri.
"Mending ke Pasirkoja, yuk! Ke rumah temanku saja. Besok hari pernikahannya. Jaga-jaga saja, kalau aku tidak bisa datang besok, " ajaknya kemudian.
'Nah, ini dia ... kalau sudah ke rumah temannya, yah sudahlah ....' batinku mengeluh diam-diam.
Akupun mengangguk sambil lalu. Menonton raut wajah senang karena menang. Yah, pada akhirnya mau tak mau penumpang harus mengalah pada pengemudi bukan? Selalu seperti itu akhirnya setiap kami pergi berdua.
******************
"Jangan katakan kamu lupa rumahnya!" Sorotku tajam.
Evi tertawa renyah. Bagi dia mungkin lucu, tapi tidak bagiku. Dan hari ini terulang lagi, ketika pada akhirnya kami harus berulang kali turun dari motor dan menanyakan alamat. Akhirnya dengan peluh di wajah, kami berhasil menemukan tujuan yang di maksud.
Ruang tamu itu telah beralih fungsi. Sensasi berantakannya sama sekali tak mengganggu. Aku senang dengan segala ornamen yang tergeletak di karpet. Yang menumpuk di kursi tamu. Yah, tercium aroma pesta pernikahan yang sangat di ruang itu. Senang hati, 'ku duduk di antara taburan suvenir di karpet.
"Silahkan pilih ... silahkan pilih hahaha ..., "Evi tertawa riang.
Ternyata ia pun merasakan sensasi yang sama denganku. Pesta pernikahan sangat agung bagi kami para wanita. Tak lama kemudian pengantin wanita berbaur, ikut tertawa senang bersama kami.
"O, ya, kenalkan ini Aila .... teman teteh, "ucap Evi kemudian.
Aku menyambut senyum si pengantin. Senang sekali melihat wajah bersinarnya. Entah kenapa aura pengantin wanita selalu tampak lebih cantik.
"Jangan lupa pisahkan bunga melatinya untuk Evi, Dek! Ucapku. Mataku menggoda Evi yang pura-pura tak mendengarkan.
Ica tergelak melihat canda kami. Dengan cekatan ia mengeluarkan suvenir-suvenir yang belum di bungkus.
"Ayo teteh, pilih saja!" Dengan baik hatinya ia menebarkan suvenir-suvenir itu di karpet.
"Awas Ailaa ... dua saja yah! Jangan banyak-banyak!" Evi menggodaku yang tengah asik memilah.
Pura-pura tak mendengarkan aku kosentrasi memilih. 'Ini menyenangkan!' Aku memang sedang membutuhkan bros untuk mempercantik kain kerudung. Dan karena kebaikan hati Ica, aku mendapatkan yang diidamkan. Bros bunga kain berwarna putih tulang. Warna netral yang senada dengan warna wajahku.
**********************
Trans Studio Mall selalu terlalu luas untukku. Dan sore itu ia tampak mewah di latar langit mendung. Hari itu, dengan kostum santai terbaikku. Lengkap dengan bros hadiah dari pengantin. Sengaja aku mampir di pusat perbelanjaan itu sekedar melepas penat. Tiba-tiba alunan azan menyadarkanku. Bergegas aku menuju lantai tiga.
"Mukenanya dipinjam semua, Teh, "penjaga penitipan barang itu menjawab pertanyaanku.
Entah sudah berapa kali aku meninggalkan perlengkapan terpenting itu di rumah. Akhirnya terpaksa aku mengantri. Dan sama sekali tak senang melakukannya. Tak senang, karena sewaktu 'berburu' mukena berarti aku harus hati-hati jangan sampai melewati yang tengah sembahyang.
Mengantri mukena dan sekarang mengantri cermin. Wanita dengan feminismenya yang kuat seringkali membuatku kesal. Menurutku yang cenderung asal-asalan dalam penampilan, mengantri cermin adalah hal konyol. Dan semakin terasa konyol lagi ketika belum semenit bercermin, ada belasan pandangan mengantri yang menusuki punggung. Jengah rasanya, ketika tengah bergelut dengan peniti diadili oleh tatapan kesal.
"Teh, maaf ... ada jarum lebih gak yah? Punyaku hilang, "tegur seseorang.
Aku meneliti pantulan bayangannya di cermin. Jelas- jelas pemandangan yang membuat kasihan. Berdasar pengalaman, kehilangan jarum itu sangat memicu adrenalin. Wanita berkerudung hijau itu menatap penitiku penuh harap.
"Ini ... pakai bros ini saja, Teh! Aku memungut bros putih tulangku dari karpet mushola.
Memang sengaja kuletakkan di situ. Aku mendadak tak bisa berpikir, gara-gara sejumlah pandangan kesal yang tengah mengantri cermin.
"Eh, jangan bros itu Teeh ... kan itu punya Teteh. Gak enak Saya, "tolaknya.
"Gak apa-apa, Teh ... pakai saja! Bujukku meyakinkan.
Rupanya ia bimbang antara mau dan tak mau. Dan akhirnya menyerah pada kenyataan. Karena toh memang ia lebih membutuhkannya daripada aku.
"Barakallah Teh ... terima kasih banyak!" Wanita itu memunggungi cermin. Tersenyum indah padaku.
Entah mengapa, aku seperti melihat aura si pengantin teman dari temanku itu di wajahnya. Aku hanya balas tersenyum padanya. 'Ah, hanya sebuah bros suvenir saja dipermasalahkan.' Dan ketika aku berbalik--seketika 'ku sadari bahwa ternyata itu bukan hanya sekedar bros. Senyum-senyum ramah menyapaku. Rupanya antrian 'pandangan kesal' itu telah berubah haluan. Senyum mereka seolah sepakat berkata, bahwa itu bukan hanya sekedar bros.
Dengan kain kerudung polos tanpa hiasan aku pun keluar dari mushola. Sekilas kulihat wanita berkerudung hijau itu tertawa bersama teman-temannya. Ia tampak cantik dengan bros putih tulangnya. Mungkin seperti 'cantik' yang pernah terpahat sejenak di wajahku juga. 'Cantik' yang ditularkan si pengantin pada bros suvenir pernikahannya.
Bandung
Cerita hari minggu
Selasa, 20 Februari 2018
Agrowisata Saung Manglid
Bagaimana, masih kesulitan memilih tujuan wisata yang edukatif? Jangan sampai kita menjadikan liburan, hanya sebagai momen berhura-hura saja. Bermain sekaligus menambah ilmu adalah dua hal yang tak sepantasnya diabaikan. Sekarang mari kita menepi sejenak ke Kota Purwakarta. Di kota yang kaya budaya itu ada sebuah resto&cafe yang unik. Penasaran seperti apa tempatnya? Yuk, kita intip keunikannya.
Saung Manglid adalah sebuah resto&cafe yang terletak di Desa Pusakamulya Kecamatan Kiarapedes-Kabupaten Purwakarta. Tempat wisata edukatif yang mengambil konsep agrowisata itu, buka setiap hari dari pukul delapan pagi hingga pukul enam sore. Di hari libur nasional pun tetap buka seperti biasa. Tempat ini pada awalnya merupakan lahan pertanian seluas tiga hektar. Sebagai penghasil benih, tempat ini sering dikunjungi tamu dari luar kota. Akhirnya, demi memfasilitasi mereka, disediakanlah tempat untuk menginap. Yang kemudian berkembang menjadi sebuah resto&cafe.
Manglid sendiri diambil dari nama sejenis kayu. Nama itu digunakan karena bangunannya di dominasi oleh kayu tersebut. Uniknya, tempat wisata itu sangat menonjolkan seni artistik dari kayu dan bambu. Sangat cocok untuk orang-orang yang menyukai selfie dan welfie.
Memasuki Saung Manglid, mata kita akan dimanjakan dekorasi dan furnitur yang artistik. Di halaman muka terdapat kolam ikan. Anak-anak biasanya senang berada di tempat itu, karena mereka bisa ikut memberi makan ikan. Cafe&resto sendiri menyediakan menu dan jajanan tradisional. Tempat makan yang disediakan pun mengusung beraneka tema. Mulai dari tema romantis sampai dengan lesehan pun tersedia di sana. O, ya, Saung Manglid pun menyediakan tempat meeting berkapasitas 30 orang. Suasana yang artistik di tempat terbuka, sangat mendukung untuk jamuan dan pertemuan.
Bagian lain yang tak kalah menarik adalah Taman Carangka dan tempat pembibitan. Untuk memasuki Taman Carangka kita cukup membayar tiket sepuluh ribu rupiah. Menariknya, pengunjung taman ini diberi suvenir berupa benih tanaman. Jangan kaget melihat keindahan taman ini. Setiap sudutnya memiliki seni artistik. Silahkan memuaskan keinginan berfoto ria di Taman Carangka.
Kemudian yang tak kalah menarik adalah tempat pembibitan. Sesuai dengan konsep dasarnya tentang tempat wisata yang edukatif. Saung Manglid sering dijadikan tempat pelatihan pertanian. Dan sebagai salah satu tempat outing class bagi para pelajar. Seperti diketahui, di Purwakarta setiap dua minggu sekali siswa diwajibkan belajar di luar ruangan. Di tempat pembibitan ini anak-anak akan mendapat pelajaran bercocok tanam. Seperti memilih benih yang baik, menanam, menyemai, menyiram dan memberi pupuk.
Saung Manglid merupakan tempat wisata edukatif yang komplit. Baik anak-anak maupun dewasa bisa ikut ambil bagian di tempat ini. Tempat yang artistik, unik dan indah ini sangat sayang bila dilewatkan begitu saja. Bagaimana, tertarik untuk mengunjunginya? Yuk, kita belajar menjadi petani di Saung Manglid.
Saung Manglid adalah sebuah resto&cafe yang terletak di Desa Pusakamulya Kecamatan Kiarapedes-Kabupaten Purwakarta. Tempat wisata edukatif yang mengambil konsep agrowisata itu, buka setiap hari dari pukul delapan pagi hingga pukul enam sore. Di hari libur nasional pun tetap buka seperti biasa. Tempat ini pada awalnya merupakan lahan pertanian seluas tiga hektar. Sebagai penghasil benih, tempat ini sering dikunjungi tamu dari luar kota. Akhirnya, demi memfasilitasi mereka, disediakanlah tempat untuk menginap. Yang kemudian berkembang menjadi sebuah resto&cafe.
Manglid sendiri diambil dari nama sejenis kayu. Nama itu digunakan karena bangunannya di dominasi oleh kayu tersebut. Uniknya, tempat wisata itu sangat menonjolkan seni artistik dari kayu dan bambu. Sangat cocok untuk orang-orang yang menyukai selfie dan welfie.
Memasuki Saung Manglid, mata kita akan dimanjakan dekorasi dan furnitur yang artistik. Di halaman muka terdapat kolam ikan. Anak-anak biasanya senang berada di tempat itu, karena mereka bisa ikut memberi makan ikan. Cafe&resto sendiri menyediakan menu dan jajanan tradisional. Tempat makan yang disediakan pun mengusung beraneka tema. Mulai dari tema romantis sampai dengan lesehan pun tersedia di sana. O, ya, Saung Manglid pun menyediakan tempat meeting berkapasitas 30 orang. Suasana yang artistik di tempat terbuka, sangat mendukung untuk jamuan dan pertemuan.
Bagian lain yang tak kalah menarik adalah Taman Carangka dan tempat pembibitan. Untuk memasuki Taman Carangka kita cukup membayar tiket sepuluh ribu rupiah. Menariknya, pengunjung taman ini diberi suvenir berupa benih tanaman. Jangan kaget melihat keindahan taman ini. Setiap sudutnya memiliki seni artistik. Silahkan memuaskan keinginan berfoto ria di Taman Carangka.
Kemudian yang tak kalah menarik adalah tempat pembibitan. Sesuai dengan konsep dasarnya tentang tempat wisata yang edukatif. Saung Manglid sering dijadikan tempat pelatihan pertanian. Dan sebagai salah satu tempat outing class bagi para pelajar. Seperti diketahui, di Purwakarta setiap dua minggu sekali siswa diwajibkan belajar di luar ruangan. Di tempat pembibitan ini anak-anak akan mendapat pelajaran bercocok tanam. Seperti memilih benih yang baik, menanam, menyemai, menyiram dan memberi pupuk.
Saung Manglid merupakan tempat wisata edukatif yang komplit. Baik anak-anak maupun dewasa bisa ikut ambil bagian di tempat ini. Tempat yang artistik, unik dan indah ini sangat sayang bila dilewatkan begitu saja. Bagaimana, tertarik untuk mengunjunginya? Yuk, kita belajar menjadi petani di Saung Manglid.
Minggu, 18 Februari 2018
Surat Untukmu-My Kenshin (1)
Assalamualaikum,
Apa kabarmu hari ini? Kabar baikkah ... adakah lagi peristiwa yang akan membuatku merasa berada di pulau terasing? Yah, itu sindiran untukmu. Menyudutkanku dalam kungkungan perasaan ini.
Kau tahu? Berbagai tema drama memilukan--terlintas begitu saja di otak. Sedangkan kau disana asik dengan dirimu sendiri. Diam--menghilang--mungkin caramu mengejek keangkuhanku. Ya, memang benar aku labeli hati dengan penolakan akan kebenaran. Kebenaran bahwa ku tak bisa tanpamu. Dan kau melakukannya dengan piawai.
Takut kehilangan--mengabrasi hatiku. Menjalar ke pusat otak, menghancurkan nalarku. Jatuh cinta sungguh membuat manusia mempertanyakan akal sehat. Bahkan takut kenyataan akan tanpamu--menghinoptis semangatku.
Dan aku begitu pongah menyatakan bisa tanpamu. Di kenyataannya argumenmu yang benar. Disaatnya nanti telah kumaktubkan di hati--akan tunjukkan semua ini pada dunia. Aku yang selalu merasa bisa sendiri, kalah oleh kenyataan akan dirimu.
Berhari kucoba hilangkan, tapi malah semakin mencekik. Rindu yang mencabik hati. Oh, betapa kuingin berteriak di gendangmu ketika kau bunyikan notif itu. Seandainya caci maki diakui di EBI, ingin kumuntahkan semua kesal itu. Dan kau--tengah bahagia. Dirimu dan kebebasan. Aku melihat diriku didirimu. Itulah mengapa ku mencintaimu. Bebas--kebebasan yang juga ada didiriku.
Kembali ku tak bisa tumpahkan gelombang kesal itu. Aku--ternyata--terlalu menyayangimu. Dan aku pahami dirimu. Aku bahagia untukmu. Aku menanti demi dirimu. Aku ... ah, entahlah--lenyap semua kesal itu dengan hadirmu--lagi.
Yah, hari ini hanya ingin kusapa dirimu. Bahagia menyadari kebahagiaanmu. Kau tengah berlayar di sebuah kapal. Dengan kawan seperjalanan yang baru. Dengan tujuan yang baru. Aku bahagia untukmu.
Semoga sehat selalu
190218
Nikita
Apa kabarmu hari ini? Kabar baikkah ... adakah lagi peristiwa yang akan membuatku merasa berada di pulau terasing? Yah, itu sindiran untukmu. Menyudutkanku dalam kungkungan perasaan ini.
Kau tahu? Berbagai tema drama memilukan--terlintas begitu saja di otak. Sedangkan kau disana asik dengan dirimu sendiri. Diam--menghilang--mungkin caramu mengejek keangkuhanku. Ya, memang benar aku labeli hati dengan penolakan akan kebenaran. Kebenaran bahwa ku tak bisa tanpamu. Dan kau melakukannya dengan piawai.
Takut kehilangan--mengabrasi hatiku. Menjalar ke pusat otak, menghancurkan nalarku. Jatuh cinta sungguh membuat manusia mempertanyakan akal sehat. Bahkan takut kenyataan akan tanpamu--menghinoptis semangatku.
Dan aku begitu pongah menyatakan bisa tanpamu. Di kenyataannya argumenmu yang benar. Disaatnya nanti telah kumaktubkan di hati--akan tunjukkan semua ini pada dunia. Aku yang selalu merasa bisa sendiri, kalah oleh kenyataan akan dirimu.
Berhari kucoba hilangkan, tapi malah semakin mencekik. Rindu yang mencabik hati. Oh, betapa kuingin berteriak di gendangmu ketika kau bunyikan notif itu. Seandainya caci maki diakui di EBI, ingin kumuntahkan semua kesal itu. Dan kau--tengah bahagia. Dirimu dan kebebasan. Aku melihat diriku didirimu. Itulah mengapa ku mencintaimu. Bebas--kebebasan yang juga ada didiriku.
Kembali ku tak bisa tumpahkan gelombang kesal itu. Aku--ternyata--terlalu menyayangimu. Dan aku pahami dirimu. Aku bahagia untukmu. Aku menanti demi dirimu. Aku ... ah, entahlah--lenyap semua kesal itu dengan hadirmu--lagi.
Yah, hari ini hanya ingin kusapa dirimu. Bahagia menyadari kebahagiaanmu. Kau tengah berlayar di sebuah kapal. Dengan kawan seperjalanan yang baru. Dengan tujuan yang baru. Aku bahagia untukmu.
Semoga sehat selalu
190218
Nikita
Langganan:
Postingan (Atom)











