Minggu, 10 Juni 2018
Sebuah Malu - Cerpen Monolog
Oleh: Yola Widya
Aku terseok di trotoar sepi. Sisa sepenggal panas waktu ashar mulai mengganggu otakku. Sesekali suara riuh dari perut mengganggu nalar. Logikaku mulai menjelajahi deretan pedagang kaki lima. Hingga mata tertumbuk pada tumpukan mie instan ternama di sebuah etalase. Kakiku tanpa dosa melangkah. 'Benarkan aku tak salah?' batin mulai berperang. Aku hanya satu dari sekian yang sedang tak menjalankan kewajiban. Itu bela hatiku, memenangkan lapar yang melilit.
Akhirnya semangkuk mie panas meliukkan aroma sedap di hadapanku. Pemilik warung menatap ramah. Mempersilahkan nikmati sajian yang terhidang. Dan aku malu. Apa yang kulakukan di sini? Mengangkat sejumput mie dengan sendok pun tak kuasa. Seperti pecundang yang kalah berperang saja aku ini. Tega nian berniat membinasakan lapar pribadi. Sedangkan yang sekian itu sedang berperang mempertahankan lapar. Dan kubiarkan mie itu mengembang di mangkuk cap ayam.
Kemudian beberapa kaum adam mengusikku. Tak berniat diri ini memberikan ruang untuk duduk mereka. Telingaku mulai menangkap rentetan menu yang dipesan. Seperti mimpi mendengarnya. Eh, atau ini kenyataan? Ekor mata mulai mengikuti tiap gerik mereka yang tanpa rasa sungkan. Dan kuikat setiap tanya yang berupa prasangka itu. Bagiku, mereka hanya beberapa yang mungkin berbeda paham religi. Atau bisa juga mereka penganut siklus bulanan kaum hawa. Ah, entahlah ... kemungkinan terakhir sangat menggelitik sisi humorku. Akhirnya ketika warung semakin penuh, aku berkesimpulan mereka hanya sekian yang kehilangan sisi religi.
Mata ramah penuh tanya mulai goyahkan diamku. Mie panas sudah tak panas lagi. Mengembang dengan sempurna penuhi lingkaran mangkuk. Anehnya, perutku mereda riakkannya. Kemana rasa lapar yang tadi? sepertinya pergolakan batin berbelas menit lalu telah meniadakannya. Sendok demi sendok hanya sanggup menari dalam mangkuk. Tak ada materi karbohidrat yang meluncur di tenggorokanku. Kubiarkan sekian mata menatap aneh.
Demi bakti pada sekian yang menjalani kewajiban, kupunahkan nafsu. Rela hatiku menerima penghakiman dari si pemilik warung. Setidaknya logika dan hatiku lega karena meninggalkan tempat itu. Tempat yang kebetulan-- membuka sisi lain realita kehidupan religi sebuah kota. Trotoar mulai dipenuhi orang yang membunuh waktu. Aku terguncang dengan labilnya diri. Bukankah lapar memang kawan dari yang mengimani kewajiban? Dan keputusankulah untuk menghormatinya walau tengah tak menjalani. Lalu tadi itu apa? Mengapa sesaat aku harus jadi bagian yang tak menghormati? Sedangkan jauh di sana ada sekian yang tak kenal sahur dan tak kenal berbuka. Tapi sekian itu tak pernah kalah dalam ketakwaan. Aku malu dengan keresahan lambungku tadi.
Di ujung trotoar kuselipkan sekantung bekal untuk berbuka padanya. Seorang anak yang menatap terkejut. Seolah aku sesuatu dari doa yang terwujud. Aku tersenyum lega. Setidaknya aku tak mengecewakan si ibu pemilik warung. Dan lebih tersenyum lagi, ketika menyadari arti dari serentetan pergolakan tadi. Ini semua tentang aku yang akhirnya menjadi perantara. Jawaban pinta seorang anak jalanan. Ah, Allah memang Maha Adil.
#karya_challenge_cerpenmonolog_2018
Jumat, 01 Juni 2018
Bacang Braga
Bandung memang kota dengan kuliner yang beraneka ragam. Hampir di setiap sudutnya tampak jenis-jenis makanan. Mulai dari sekedar jajanan anak hingga jajanan yang berkelas. Terutama di bulan ramadhan seperti ini, jangan ditanya seperti apa lengkapnya. Pantas saja, banyak wisatawan yang sengaja datang ke kota ini untuk wisata kuliner. Kota Bandung memang banyak menyimpan kuliner unik. Salah satunya di daerah Braga. Penasaran ada apa di jalan itu? Yuk, kita berkunjung ke sana!
Bakcang atau bacang adalah makanan dari Tiong Hoa. Karena akulturasi pada masa perdagangan dulu, makanan ini kemudian diserap oleh bangsa kita. Bacang ini ciri khasnya daging manis yang dilapisi beras kemudian dibungkus daun bambu. Proses masaknya dengan pengukusan. Nah, di Bandung ada bacang yang terkenal dengan sebutan Bacang Braga. Makanan ini memiliki ciri khas tersendiri. Apa bedanya? Ternyata bacang yang satu ini unik. Pemiliknya Pak Halim, menyajikannya dengan cara berbeda. Si bacang itu dibelah dua, kemudian disiram dengan jando. Bagi yang menyukai pedas bisa ditambahi sambal merah di atasnya. Jando sendiri berupa potongan daging iga yang diberi bumbu manis. Kombinasi rasanya dengan bacang daging, jadi menciptakan sensasi ketagihan.
Pak Halim berjualan di Jalan Braga pendek hampir 27 tahun. Itu yang diutarakannya kemarin malam. Bacang Braga ini tak sulit dicari. Untuk memudahkan, lebih baik mengambil arah dari alun-alun Bandung. Kita bisa berjalan menyusuri trotoar. Sambil menikmati keunikan Kota Bandung yang ada di daerah itu. Setelah melewati Museum KAA, kita akan mendapati apotik Kimia Farma. Pak Halim berjualan di jalan kecil yang tepat bersebelahan dengan apotik itu. Biasanya dia berjualan dari pukul lima sore hingga larut malam. Kemudian dia akan berjalan dan melanjutkan berjualan di Jalan Braga panjang hingga pukul tiga pagi. Oh, ya, Bacang ini bisa dinikmati dengan harga 8000 rupiah saja. Murah meriah kan?
Sangat nikmat mencicipi makanan ini di tengah suasana Jalan Braga yang romantis. Bila malam tiba lampu-lampu akan dimyalakan. Deretan gedung kuno di sekitar tempat Pak Halim berjualan pun terlihat sangat eksotis. Nah, bagi yang mengunjungi Bandung, jangan lupa untuk mampir di Braga. Bisa dipastikan, takkan menolak sebutan Bacang Braga sebagai bacang terenak di Kota Bandung.
Bakcang atau bacang adalah makanan dari Tiong Hoa. Karena akulturasi pada masa perdagangan dulu, makanan ini kemudian diserap oleh bangsa kita. Bacang ini ciri khasnya daging manis yang dilapisi beras kemudian dibungkus daun bambu. Proses masaknya dengan pengukusan. Nah, di Bandung ada bacang yang terkenal dengan sebutan Bacang Braga. Makanan ini memiliki ciri khas tersendiri. Apa bedanya? Ternyata bacang yang satu ini unik. Pemiliknya Pak Halim, menyajikannya dengan cara berbeda. Si bacang itu dibelah dua, kemudian disiram dengan jando. Bagi yang menyukai pedas bisa ditambahi sambal merah di atasnya. Jando sendiri berupa potongan daging iga yang diberi bumbu manis. Kombinasi rasanya dengan bacang daging, jadi menciptakan sensasi ketagihan.
Pak Halim berjualan di Jalan Braga pendek hampir 27 tahun. Itu yang diutarakannya kemarin malam. Bacang Braga ini tak sulit dicari. Untuk memudahkan, lebih baik mengambil arah dari alun-alun Bandung. Kita bisa berjalan menyusuri trotoar. Sambil menikmati keunikan Kota Bandung yang ada di daerah itu. Setelah melewati Museum KAA, kita akan mendapati apotik Kimia Farma. Pak Halim berjualan di jalan kecil yang tepat bersebelahan dengan apotik itu. Biasanya dia berjualan dari pukul lima sore hingga larut malam. Kemudian dia akan berjalan dan melanjutkan berjualan di Jalan Braga panjang hingga pukul tiga pagi. Oh, ya, Bacang ini bisa dinikmati dengan harga 8000 rupiah saja. Murah meriah kan?
Sangat nikmat mencicipi makanan ini di tengah suasana Jalan Braga yang romantis. Bila malam tiba lampu-lampu akan dimyalakan. Deretan gedung kuno di sekitar tempat Pak Halim berjualan pun terlihat sangat eksotis. Nah, bagi yang mengunjungi Bandung, jangan lupa untuk mampir di Braga. Bisa dipastikan, takkan menolak sebutan Bacang Braga sebagai bacang terenak di Kota Bandung.
Sabtu, 19 Mei 2018
Aji Saka - Asal Muasal Huruf Jawa Kuno
#Aji Saka
#Legenda dari tanah Jawa
#Cerita anak
Oleh: Yola Widya
Dahulu kala hiduplah seorang pemuda sakti bernama Aji Saka. Ia tinggal di wilayah kerajaan Medang Kamulan yang dipimpin oleh Prabu Dewata Cengkar. Rakyat kerajaan Medang Kamulan hidup dalam ketakutan. Hal itu dikarenakan raja mereka memiliki kegemaran yang mengerikan. Ia senang melahap daging manusia terutama yang berusia muda.
Pada suatu hari, Aji Saka yang tengah keluar dari pertapaannya mendengar keributan penduduk desa. Semua orang bergerombol di luar rumah. Para ibu menangis. Sedangkan pemuda-pemuda tampak ketakutan.
"Ada apa gerangan?" Aji Saka bertanya penasaran kepada seorang lelaki tua.
"Sang Raja!" teriak lelaki itu histeris. "Dia mengambil seorang pemuda dari desa ini!"
Aji Saka geram dengan kelakuan Prabu Dewata Cengkar. Ia bisa merasakan ketakutan yang melanda rakyat kerajaan Medang Kamulan ini. Mereka tak bisa melarikan diri karena wilayah kerajaan di jaga oleh para prajurit yang setia pada raja. Akhirnya Aji Saka bertekad menantang sang raja. Ia kemudian memasuki istana kerajaan dengan gagah berani.
"Siapa Kau?!" teriak raja. Prabu Dewata Cengkar bangkit dari tahtanya. Ia terheran-heran dengan kedatangan pemuda tak dikenal itu.
Aji Saka menjawab lantang, "Aku Aji Saka. Aku bermaksud menyerahkan diri padamu!"
Raja dan para penghuni istana tertawa mendengar perkataan Aji Saka. Mereka beranggapan pemuda itu sangat bodoh.
"Dagingmu terlihat sangat lezat!" wajah Prabu Dewata Cengkar mulai beringas. Ia ingin segera melahap pemuda kurang ajar itu.
Aji Saka tersenyum, "Hamba senang bisa menjadi santapanmu, Tuanku! Tapi dengan satu syarat!" teriaknya. Ia ingin semua penghuni istana mendengarnya.
"Katakan apa syaratmu, cepatlah!" balas sang raja.
"Aku ingin Kau hadiahi aku tanah selebar sorbanku ini!" jawab Aji Saka. Tangannya menunjuk kain yang membebat kepalanya.
Sontak raja dan para pengikutnya tertawa terpingkal-pingkal. Mereka berpikir tak ada manusia yang sebodoh pemuda itu.
"Baiklah, Aku kabulkan permintaanmu. Sekarang gelarlah sorbanmu itu!" perintah sang raja.
Aji Saka dengan tenang melepas sorbannya. Ia kemudian menggelar kain sorban di lantai istana. Lebarnya tak lebih dari setengah meter. Raja sangat geli melihat tingkah Aji Saka. Baginya tanah selebar sorban itu tak ada artinya. Tapi kemudian keanehan terjadi. Kain sorban itu melebar dan semakin lebar lagi. Sampai akhirnya keluar dari istana dan hampir menutupi seluruh wilayah kerajaan. Tawa raja dan pengikutnya terhenti. Mereka tercengang. Kini rasa marah dan takut mulai menguasai mereka.
"Apa ini? Kau menipuku!" teriak Prabu Dewata Cengkar geram. Ia lalu menerjang Aji Saka dengan marah.
Aji Saka menyambut serangan sang raja. Mereka terlibat perkelahian sengit. Namun ternyata kesaktian Aji Saka bukanlah tandingan raja. Akhirnya, Prabu Dewata Cengkar pun binasa di tangan pemuda itu. Adapun sorban pusaka itu terus melebar dan akhirnya menutupi seluruh wilayah kerajaan Medang Kamulan. Aji Saka pun menjadi penguasa baru wilayah kerajaan itu. Rakyat kerajaan Medang Kamulan sangat gembira mendengar kematian raja mereka. Dan mereka berharap Aji Saka bisa menjadi raja yang baik.
Suatu hari Aji Saka menyempatkan diri untuk pulang ke pertapaannya. Ia ingin menyimpan sorban pusakanya di tempat yang aman.
"Wahai Subadra! Aku titahkan Kau untuk menjaga sorban pusaka ini. Kelak Aku akan mengambilnya kembali." perintah Aji Saka pada salah seorang abdi setianya di pertapaan.
Subadra menyanggupi tugasnya. Ia akan mengemban titah Aji Saka dengan sebaik-baiknya. Setelah menitipkan benda pusaka itu Aji Saka pun kembali ke istana. Ia membawa serta Dora, abdi setianya. Tak lama kemudian diceritakan Aji Saka akhirnya dinobatkan menjadi seorang raja. Ia memimpin kerajaannya dengan bijaksana. Rakyat Medang Kamulan pun sangat mencintainya.
Selang beberapa tahun di masa pemerintahannya, Aji Saka teringat akan sorban pusakanya. Ia ingin mengambil benda pusaka itu, tapi tak mungkin meninggalkan kerajaan begitu saja. Akhirnya ia memerintahkan Dora untuk mengambil sorban itu. Dora pun berangkat ke pertapaan untuk menemui Subadra.
"Saudaraku, lama nian kita tak jumpa!" Subadra sangat senang dengan kedatangan Dora.
Dora pun sebenarnya sangat merindukan pertapaan dan saudaranya itu. Mereka kemudian terlibat percakapan hangat.
"Saudaraku, Aku sebenarnya datang kemari mengemban tugas dari raja. Aku dititahkan untuk mengambil sorban miliknya." Dora akhirnya menyatakan maksud kedatangannya.
Kening Subadra berkerut, "Maaf, Saudaraku. Aku tak bisa mengabulkan permintaanmu. Aku dititahkan untuk menjaga sorban itu. Dan raja yang akan mengambilnya sendiri." Subadra menimpali perkataan Dora.
Dora tak mengerti dengan jawaban Subadra. Seharusnya saudaranya itu menyerahkan saja sorban itu.
"Aku pun mengemban titah, Subadra!" serunya. Wajahnya mulai menegang.
Subadra bersikeras tak mau menyerahkan sorban itu. Mereka berdua saling bersikukuh dengan pendapat masing-masing. Merasa tak bersalah karena masing-masing mengemban titah dari Aji Saka. Pertengkaran mereka semakin sengit. Akhirnya terlibatlah mereka dalam pertempuran yang hebat.
Sementara itu Aji Saka mulai merasa aneh karena Dora tak kunjung kembali. Ia hendak mengirim utusan untuk menyusul abdinya itu tapi kemudian mengurungkannya. Tiba-tiba Aji Saka teringat janjinya pada Subadra. Ia dahulu berkata akan mengambil sendiri sorban pusaka itu. Terkejut dengan ingatannya itu, Aji Saka dengan segera berangkat ke pertapaan.
"Ya Tuhan!" pekiknya terkejut. Ia melihat kedua abdi setianya telah tak bernyawa ketika tiba di pertapaan.
Aji Saka sangat menyesali kelalaiannya. Ia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri. Kedua abdinya telah menunjukkan kesetiaan yang luar biasa padanya. Kemudian diceritakan Aji Saka menciptakan huruf Jawa kuno demi mengenang kesetiaan Subadra dan Dora. Huruf-huruf Jawa itu dinamai Ha na ca ra ka Da ta sa wa la Pa da ja ya nya Ma ga ba tha nga. Yang artinya "ada utusan saling berkelahi, sama-sama saktinya, sama-sama mati".
Bandung, 19 Mei 2018
#Legenda dari tanah Jawa
#Cerita anak
Oleh: Yola Widya
Dahulu kala hiduplah seorang pemuda sakti bernama Aji Saka. Ia tinggal di wilayah kerajaan Medang Kamulan yang dipimpin oleh Prabu Dewata Cengkar. Rakyat kerajaan Medang Kamulan hidup dalam ketakutan. Hal itu dikarenakan raja mereka memiliki kegemaran yang mengerikan. Ia senang melahap daging manusia terutama yang berusia muda.
Pada suatu hari, Aji Saka yang tengah keluar dari pertapaannya mendengar keributan penduduk desa. Semua orang bergerombol di luar rumah. Para ibu menangis. Sedangkan pemuda-pemuda tampak ketakutan.
"Ada apa gerangan?" Aji Saka bertanya penasaran kepada seorang lelaki tua.
"Sang Raja!" teriak lelaki itu histeris. "Dia mengambil seorang pemuda dari desa ini!"
Aji Saka geram dengan kelakuan Prabu Dewata Cengkar. Ia bisa merasakan ketakutan yang melanda rakyat kerajaan Medang Kamulan ini. Mereka tak bisa melarikan diri karena wilayah kerajaan di jaga oleh para prajurit yang setia pada raja. Akhirnya Aji Saka bertekad menantang sang raja. Ia kemudian memasuki istana kerajaan dengan gagah berani.
"Siapa Kau?!" teriak raja. Prabu Dewata Cengkar bangkit dari tahtanya. Ia terheran-heran dengan kedatangan pemuda tak dikenal itu.
Aji Saka menjawab lantang, "Aku Aji Saka. Aku bermaksud menyerahkan diri padamu!"
Raja dan para penghuni istana tertawa mendengar perkataan Aji Saka. Mereka beranggapan pemuda itu sangat bodoh.
"Dagingmu terlihat sangat lezat!" wajah Prabu Dewata Cengkar mulai beringas. Ia ingin segera melahap pemuda kurang ajar itu.
Aji Saka tersenyum, "Hamba senang bisa menjadi santapanmu, Tuanku! Tapi dengan satu syarat!" teriaknya. Ia ingin semua penghuni istana mendengarnya.
"Katakan apa syaratmu, cepatlah!" balas sang raja.
"Aku ingin Kau hadiahi aku tanah selebar sorbanku ini!" jawab Aji Saka. Tangannya menunjuk kain yang membebat kepalanya.
Sontak raja dan para pengikutnya tertawa terpingkal-pingkal. Mereka berpikir tak ada manusia yang sebodoh pemuda itu.
"Baiklah, Aku kabulkan permintaanmu. Sekarang gelarlah sorbanmu itu!" perintah sang raja.
Aji Saka dengan tenang melepas sorbannya. Ia kemudian menggelar kain sorban di lantai istana. Lebarnya tak lebih dari setengah meter. Raja sangat geli melihat tingkah Aji Saka. Baginya tanah selebar sorban itu tak ada artinya. Tapi kemudian keanehan terjadi. Kain sorban itu melebar dan semakin lebar lagi. Sampai akhirnya keluar dari istana dan hampir menutupi seluruh wilayah kerajaan. Tawa raja dan pengikutnya terhenti. Mereka tercengang. Kini rasa marah dan takut mulai menguasai mereka.
"Apa ini? Kau menipuku!" teriak Prabu Dewata Cengkar geram. Ia lalu menerjang Aji Saka dengan marah.
Aji Saka menyambut serangan sang raja. Mereka terlibat perkelahian sengit. Namun ternyata kesaktian Aji Saka bukanlah tandingan raja. Akhirnya, Prabu Dewata Cengkar pun binasa di tangan pemuda itu. Adapun sorban pusaka itu terus melebar dan akhirnya menutupi seluruh wilayah kerajaan Medang Kamulan. Aji Saka pun menjadi penguasa baru wilayah kerajaan itu. Rakyat kerajaan Medang Kamulan sangat gembira mendengar kematian raja mereka. Dan mereka berharap Aji Saka bisa menjadi raja yang baik.
Suatu hari Aji Saka menyempatkan diri untuk pulang ke pertapaannya. Ia ingin menyimpan sorban pusakanya di tempat yang aman.
"Wahai Subadra! Aku titahkan Kau untuk menjaga sorban pusaka ini. Kelak Aku akan mengambilnya kembali." perintah Aji Saka pada salah seorang abdi setianya di pertapaan.
Subadra menyanggupi tugasnya. Ia akan mengemban titah Aji Saka dengan sebaik-baiknya. Setelah menitipkan benda pusaka itu Aji Saka pun kembali ke istana. Ia membawa serta Dora, abdi setianya. Tak lama kemudian diceritakan Aji Saka akhirnya dinobatkan menjadi seorang raja. Ia memimpin kerajaannya dengan bijaksana. Rakyat Medang Kamulan pun sangat mencintainya.
Selang beberapa tahun di masa pemerintahannya, Aji Saka teringat akan sorban pusakanya. Ia ingin mengambil benda pusaka itu, tapi tak mungkin meninggalkan kerajaan begitu saja. Akhirnya ia memerintahkan Dora untuk mengambil sorban itu. Dora pun berangkat ke pertapaan untuk menemui Subadra.
"Saudaraku, lama nian kita tak jumpa!" Subadra sangat senang dengan kedatangan Dora.
Dora pun sebenarnya sangat merindukan pertapaan dan saudaranya itu. Mereka kemudian terlibat percakapan hangat.
"Saudaraku, Aku sebenarnya datang kemari mengemban tugas dari raja. Aku dititahkan untuk mengambil sorban miliknya." Dora akhirnya menyatakan maksud kedatangannya.
Kening Subadra berkerut, "Maaf, Saudaraku. Aku tak bisa mengabulkan permintaanmu. Aku dititahkan untuk menjaga sorban itu. Dan raja yang akan mengambilnya sendiri." Subadra menimpali perkataan Dora.
Dora tak mengerti dengan jawaban Subadra. Seharusnya saudaranya itu menyerahkan saja sorban itu.
"Aku pun mengemban titah, Subadra!" serunya. Wajahnya mulai menegang.
Subadra bersikeras tak mau menyerahkan sorban itu. Mereka berdua saling bersikukuh dengan pendapat masing-masing. Merasa tak bersalah karena masing-masing mengemban titah dari Aji Saka. Pertengkaran mereka semakin sengit. Akhirnya terlibatlah mereka dalam pertempuran yang hebat.
Sementara itu Aji Saka mulai merasa aneh karena Dora tak kunjung kembali. Ia hendak mengirim utusan untuk menyusul abdinya itu tapi kemudian mengurungkannya. Tiba-tiba Aji Saka teringat janjinya pada Subadra. Ia dahulu berkata akan mengambil sendiri sorban pusaka itu. Terkejut dengan ingatannya itu, Aji Saka dengan segera berangkat ke pertapaan.
"Ya Tuhan!" pekiknya terkejut. Ia melihat kedua abdi setianya telah tak bernyawa ketika tiba di pertapaan.
Aji Saka sangat menyesali kelalaiannya. Ia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri. Kedua abdinya telah menunjukkan kesetiaan yang luar biasa padanya. Kemudian diceritakan Aji Saka menciptakan huruf Jawa kuno demi mengenang kesetiaan Subadra dan Dora. Huruf-huruf Jawa itu dinamai Ha na ca ra ka Da ta sa wa la Pa da ja ya nya Ma ga ba tha nga. Yang artinya "ada utusan saling berkelahi, sama-sama saktinya, sama-sama mati".
Bandung, 19 Mei 2018
Jumat, 04 Mei 2018
Letter for Kenshin
Assalammu'alaikum
Maaf, aku tahu seharusnya salam itu kutujukan langsung padamu. Tapi aku belum sampai pada suatu kondisi menerima kenyataan yang ada. Bahkan tak sanggup hanya sekedar mengetikkan kata "hai" di kotak chat.
Entah ini tentang apa, tiba-tiba saja halaman yang kita tulis dengan indahnya jadi terkatung-katung. Aku tahu ini belum sampai pada akhir kalimat penyempurna. Hanya saja ketika semua kata jadi beku dan diam--cerita itu berbalik semu. Aku terpana dengan alur yang berubah kacau. Kau ... entah dengan pemikiran apa lagi--membuatnya jadi terhenti di waktu.
Bila aku membuatmu ragu, maafkan ... karena aku tak tahu. Ini bukan tentang kehidupan yang menjadi biru. Tapi tentang dirimu yang "pergi" ketika menyadari aku telah "bahagia". Seperti ucapanmu diawal, "aku di sini bersamamu hingga ada yang membuatmu tersenyum". Kalimat yang langsung ku koreksi dan akhirnya membuat kita bersatu dalam rasa.
Bertahun-tahun hanya tentangmu yang mencintaiku dalam diam. Tentang bagaimana aku berusaha yakinkan dirimu bahwa ini patut diperjuangkan. Tentang bagaimana akhirnya "diam" itu yang kembali menang. Aku--tak tahu--harus memaknai seperti apa diam ini. Sedangkan setiap hari yang terasa hanyalah rindumu yang kau sekap dalam diam. Yah, takkan mungkin hilang semua ikatan rasa diantara kita.
Kenshin ... aku rindu senyum simpulmu setiap ku panggil dirimu dengan nama itu. Haruskah seperti waktu yang lalu lagi? Saling mencintai dalam diam. Aku tak sanggup bertanya kabarmu walau aku tahu kau tengah menunggu. Sekali ini saja, bisakah kau mengalah? Ini bukan bahagiaku ... kaulah bahagiaku. Tidak di tulisan-tulisanku, tidak pula di kesibukanku. Hanya kamu ... kamu bahagiaku.
Merindumu dalam diam membuatku kelu. Dan semakin pilu ketika rindumu menyentuh hatiku. Aku ingin merubah alur yang keluar dari jalur cerita ini. Tapi aku tak bisa menghapusnya atau bahkan merobek halaman salahnya. Aku takut semakin membuat jalur ceritanya di luar harapan. Takut takkan pernah ada akhir yang pasti. Seperti yang selalu kau katakan, bila ini adalah cerita antara kita yang tak ada akhirnya.
My Kenshin, rasaku padamu tak perlu dimaknai tabu. Dan aku yakin dengan hatimu. Mungkin akhir cerita dari novelku dituliskan terlalu cepat. Tapi kusadari memang itulah ending yang harus tertulis. Jangan salahkan jalan cerita yang kutulis. Itu adalah hasil pengembangan sinopsis yang kau tulis. Aku hanya menyempurnakannya menjadi sebuah akhir yang tak terduga. Atau mungkin sebuah akhir yang menggantung. Entahlah ... karena aku selalu mengharapkan diam ini berakhir. Dan mengubah kembali alur yang salah menjadi indah.
Selalu jaga senyummu untukku. Seperti aku selalu menjaga senyumku di sini. Selalu ... seperti yang kau ajarkan padaku. Itsumo made ni mada shinjite iru.
#mykenshin
#endofchapter
Viandra
Bandung 050518
Maaf, aku tahu seharusnya salam itu kutujukan langsung padamu. Tapi aku belum sampai pada suatu kondisi menerima kenyataan yang ada. Bahkan tak sanggup hanya sekedar mengetikkan kata "hai" di kotak chat.
Entah ini tentang apa, tiba-tiba saja halaman yang kita tulis dengan indahnya jadi terkatung-katung. Aku tahu ini belum sampai pada akhir kalimat penyempurna. Hanya saja ketika semua kata jadi beku dan diam--cerita itu berbalik semu. Aku terpana dengan alur yang berubah kacau. Kau ... entah dengan pemikiran apa lagi--membuatnya jadi terhenti di waktu.
Bila aku membuatmu ragu, maafkan ... karena aku tak tahu. Ini bukan tentang kehidupan yang menjadi biru. Tapi tentang dirimu yang "pergi" ketika menyadari aku telah "bahagia". Seperti ucapanmu diawal, "aku di sini bersamamu hingga ada yang membuatmu tersenyum". Kalimat yang langsung ku koreksi dan akhirnya membuat kita bersatu dalam rasa.
Bertahun-tahun hanya tentangmu yang mencintaiku dalam diam. Tentang bagaimana aku berusaha yakinkan dirimu bahwa ini patut diperjuangkan. Tentang bagaimana akhirnya "diam" itu yang kembali menang. Aku--tak tahu--harus memaknai seperti apa diam ini. Sedangkan setiap hari yang terasa hanyalah rindumu yang kau sekap dalam diam. Yah, takkan mungkin hilang semua ikatan rasa diantara kita.
Kenshin ... aku rindu senyum simpulmu setiap ku panggil dirimu dengan nama itu. Haruskah seperti waktu yang lalu lagi? Saling mencintai dalam diam. Aku tak sanggup bertanya kabarmu walau aku tahu kau tengah menunggu. Sekali ini saja, bisakah kau mengalah? Ini bukan bahagiaku ... kaulah bahagiaku. Tidak di tulisan-tulisanku, tidak pula di kesibukanku. Hanya kamu ... kamu bahagiaku.
Merindumu dalam diam membuatku kelu. Dan semakin pilu ketika rindumu menyentuh hatiku. Aku ingin merubah alur yang keluar dari jalur cerita ini. Tapi aku tak bisa menghapusnya atau bahkan merobek halaman salahnya. Aku takut semakin membuat jalur ceritanya di luar harapan. Takut takkan pernah ada akhir yang pasti. Seperti yang selalu kau katakan, bila ini adalah cerita antara kita yang tak ada akhirnya.
My Kenshin, rasaku padamu tak perlu dimaknai tabu. Dan aku yakin dengan hatimu. Mungkin akhir cerita dari novelku dituliskan terlalu cepat. Tapi kusadari memang itulah ending yang harus tertulis. Jangan salahkan jalan cerita yang kutulis. Itu adalah hasil pengembangan sinopsis yang kau tulis. Aku hanya menyempurnakannya menjadi sebuah akhir yang tak terduga. Atau mungkin sebuah akhir yang menggantung. Entahlah ... karena aku selalu mengharapkan diam ini berakhir. Dan mengubah kembali alur yang salah menjadi indah.
Selalu jaga senyummu untukku. Seperti aku selalu menjaga senyumku di sini. Selalu ... seperti yang kau ajarkan padaku. Itsumo made ni mada shinjite iru.
#mykenshin
#endofchapter
Viandra
Bandung 050518
Langganan:
Postingan (Atom)

