Minggu, 10 Juni 2018

Sebuah Malu - Cerpen Monolog




Oleh: Yola Widya


Aku terseok di trotoar sepi. Sisa sepenggal panas waktu ashar mulai mengganggu otakku. Sesekali suara riuh dari perut mengganggu nalar. Logikaku mulai menjelajahi deretan pedagang kaki lima. Hingga mata tertumbuk pada tumpukan mie instan ternama di sebuah etalase. Kakiku tanpa dosa melangkah. 'Benarkan aku tak salah?' batin mulai berperang. Aku hanya satu dari sekian yang sedang tak menjalankan kewajiban. Itu bela hatiku, memenangkan lapar yang melilit.

Akhirnya semangkuk mie panas meliukkan aroma sedap di hadapanku. Pemilik warung menatap ramah. Mempersilahkan nikmati sajian yang terhidang. Dan aku malu. Apa yang kulakukan di sini? Mengangkat sejumput mie dengan sendok pun tak kuasa. Seperti pecundang yang kalah berperang saja aku ini. Tega nian berniat membinasakan lapar pribadi. Sedangkan yang sekian itu sedang berperang mempertahankan lapar. Dan kubiarkan mie itu mengembang di mangkuk cap ayam.

Kemudian beberapa kaum adam mengusikku. Tak berniat diri ini memberikan ruang untuk duduk mereka. Telingaku mulai menangkap rentetan menu yang dipesan. Seperti mimpi mendengarnya. Eh, atau ini kenyataan? Ekor mata mulai mengikuti tiap gerik mereka yang tanpa rasa sungkan. Dan kuikat setiap tanya yang berupa prasangka itu. Bagiku, mereka hanya beberapa yang mungkin berbeda paham religi. Atau bisa juga mereka penganut siklus bulanan kaum hawa. Ah, entahlah ... kemungkinan terakhir sangat menggelitik sisi humorku. Akhirnya ketika warung semakin penuh, aku berkesimpulan mereka hanya sekian yang kehilangan sisi religi.

Mata ramah penuh tanya mulai goyahkan diamku. Mie panas sudah tak panas lagi. Mengembang dengan sempurna penuhi lingkaran mangkuk. Anehnya, perutku mereda riakkannya. Kemana rasa lapar yang tadi? sepertinya pergolakan batin berbelas menit lalu telah meniadakannya. Sendok demi sendok hanya sanggup menari dalam mangkuk. Tak ada materi karbohidrat yang meluncur di tenggorokanku. Kubiarkan sekian mata menatap aneh.

Demi bakti pada sekian yang menjalani kewajiban, kupunahkan nafsu. Rela hatiku menerima penghakiman dari si pemilik warung. Setidaknya logika dan hatiku lega karena meninggalkan tempat itu. Tempat yang kebetulan-- membuka sisi lain realita kehidupan religi sebuah kota. Trotoar mulai dipenuhi orang yang membunuh waktu. Aku terguncang dengan labilnya diri. Bukankah lapar memang kawan dari yang mengimani kewajiban? Dan keputusankulah untuk menghormatinya walau tengah tak menjalani. Lalu tadi itu apa? Mengapa sesaat aku harus jadi bagian yang tak menghormati? Sedangkan jauh di sana ada sekian yang tak kenal sahur dan tak kenal berbuka. Tapi sekian itu tak pernah kalah dalam ketakwaan. Aku malu dengan keresahan lambungku tadi.

Di ujung trotoar kuselipkan sekantung bekal untuk berbuka padanya. Seorang anak yang menatap terkejut. Seolah aku sesuatu dari doa yang terwujud. Aku tersenyum lega. Setidaknya aku tak mengecewakan si ibu pemilik warung. Dan lebih tersenyum lagi,  ketika menyadari arti dari serentetan pergolakan tadi. Ini semua tentang aku yang akhirnya menjadi perantara. Jawaban pinta seorang anak jalanan. Ah, Allah memang Maha Adil.


#karya_challenge_cerpenmonolog_2018