Kembali mata melirik jam di dinding, sudah kesepersekian kalinya menghitung menit dan detik. Bukan hal yang patut dipertanyakan lagi, bila keterlambatan pulang menjadi hal pemicu kesalahpahaman. Dan otak ini mulai memikirkan macam-macam. Mulai dari mencoba mengira-ngira jam pulang, sampai mengkalkulasikan maksimal keterlambatan bila jalan macet.
Aku kesaaal.. mulai bermacam pikiran negatif hinggap. Sampai akhirnya terhimpun untaian konotasi yang menggambarkan pikiran negatif. Sudah siap diujung lidah siap untuk dimuntahkan. Kenapa yah hanya diminta pulang cepat aja ko susaaah kelihatannya. Apa memang tidak berusaha? Apa memang tidak menghargai? istri itu hanya minta dihargai sudah menunggu seharian di rumah. Pulang cepat kek, apa sms dulu kalo mo terlambat.. bla bla bla...
Plaaakk... Nalar panjangku menampar nalar pendekku. Hayoo.. pikiran negatif hanya akan merusak segala keseimbangan di tubuh, tegur otakku. Blaas mencoba menjernihkan segala pikiran negatif yang ada. Tarik napas panjang, nalar pendek hanya menghasilkan pikiran negatif, hatiku berujar. Ingat kuliah bunsay.. ingat... jujur kalau tidak ingat pasti sudah meluncur sms sms tidak mengenakkan hati. Telpon dengan celoteh nada curigapun sudah dipastikan berbunyi terus. Sabar.. sabar..
Bunyi pintu pagar depan mengusik gelisahku. Dan itulah dia pulang dengan senyum tersungging di wajahnya. Mungkin senang karena tidak diteror oleh sms dan telpon yang tidak mengenakkan hati.
" Tumben ga baweel.. ucapnya sambil senyum-senyum.
"menghemat energi, ucapku sambil lalu. Padahal di hati ini masih tersisa jengkel.
"maaf yah telat sedikit.. nih aku belikan kolak, ucapnya sembari menyodorkan bungkusan.
Sedikit terperangah, eh perasaan aku ga minta.. tumben berinisiatif sendiri. Aku senang? oh tentu saja senang, ternyata tanpa harus bawel beliau ini bisa juga sadar sendiri yah. Hmm...
#gamelevel1
#day4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Senin, 05 Juni 2017
Melatih sabar
Kesal melihat sang suami belum beranjak dari mimpinya. Sehabis subuh mungkin karena kelelahan dia langsung berbaring lagi. Maklum pedagang.. pastinya butuh tenaga ekstra untuk menjajakan dagangannya, terlebih di bulan puasa ini. Tapiii.. rasanya kesal sekali bila telah lewat jam sewajarnya untuk bangun dan beliau ini masih tampak terlena di dunianya.
Kesal, bolak-balik masih saja tidur. Apa sih salahnya bangun lebih awal biar ada waktu lebih untuk bercanda dengan istri? Hmm.. hawa merajuk mulai berkoar di dada. Godaan menyemprotkan ribuan celoteh nyinyir rasanya tak tertahankan. Yaaah.. ingin sekali bibir ini berceloteh panjang lebar. Ups! ingat.. ingat.. kamu sedang berlatih kaidah 7-38-55 , ujar sang otak.
Waah rasanya sulit untuk mengerem celoteh yang mendesak keluar dari bibir ini.
Bismillah.. tarik nafas.. panjangkan nalar...
" ning nong.. yang lagi mimpi udah jam 9 nih, bisikku tepat di telinga beliau. Gerakan lambat menandakan dia terusik sejenak. Haduuh sebenarnya sudah tak tahan ingin berbawel ria, tapiii.. sabar.. sabar...
" paah.. ning nong jam 9 nih, bisikku lagi. Jemariku iseng menggelitik punggungnya. Tersenyum sang suami membalikkan badannya. Tumbeeen ga baweell.. ujarnya mesem mesem. Berusaha menahan semburan kosakata nyinyir dari bibir, aku membuat gerakan mengunci bibir dengan jari.
Tertawa geli dia bangkit dari tempat tidur, " siaap komandan! waktunya banguun...
Dan kembali perbaikan pola komunikasi yang sudah mengakar itu berusaha aku kikis perlahan.
#gamelevel1
#day3
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Kesal, bolak-balik masih saja tidur. Apa sih salahnya bangun lebih awal biar ada waktu lebih untuk bercanda dengan istri? Hmm.. hawa merajuk mulai berkoar di dada. Godaan menyemprotkan ribuan celoteh nyinyir rasanya tak tertahankan. Yaaah.. ingin sekali bibir ini berceloteh panjang lebar. Ups! ingat.. ingat.. kamu sedang berlatih kaidah 7-38-55 , ujar sang otak.
Waah rasanya sulit untuk mengerem celoteh yang mendesak keluar dari bibir ini.
Bismillah.. tarik nafas.. panjangkan nalar...
" ning nong.. yang lagi mimpi udah jam 9 nih, bisikku tepat di telinga beliau. Gerakan lambat menandakan dia terusik sejenak. Haduuh sebenarnya sudah tak tahan ingin berbawel ria, tapiii.. sabar.. sabar...
" paah.. ning nong jam 9 nih, bisikku lagi. Jemariku iseng menggelitik punggungnya. Tersenyum sang suami membalikkan badannya. Tumbeeen ga baweell.. ujarnya mesem mesem. Berusaha menahan semburan kosakata nyinyir dari bibir, aku membuat gerakan mengunci bibir dengan jari.
Tertawa geli dia bangkit dari tempat tidur, " siaap komandan! waktunya banguun...
Dan kembali perbaikan pola komunikasi yang sudah mengakar itu berusaha aku kikis perlahan.
#gamelevel1
#day3
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Sabtu, 03 Juni 2017
Game level 1-day 2
Sejatinya dalam komunikasi ada pengertian dari dua arah. Tidak hanya satu pihak yang berinteraksi sedangkan pihak yang satu acuh tak bereaksi. Komunikasi satu arah biasanya terjadi bila satu pihak merasa paling benar, dan tanpa disengaja seolah menyudutkan partner bicaranya. Si partner mau tak mau akhirnya merespon dengan seolah tidak mendengarkan pembicaraan. Karena dia merasa disudutkan dan tidak dimintai pendapat.
Akhirnya komunikasi satu arah ini menjadi pintu awal dari perselisihan. Akan selalu menjadi seperti ini bila tidak ada niat dari semua pihak untuk memperbaiki pola komunikasinya. Saya menyadari benar pola komunikasi diri sendiri harus segera diperbaiki. Mulai dari intonasi yang diperhalus dan mimik wajah yang diperlembut. Sewajarnya bila sayapun menginginkan pasangan untuk belajar bersama memperbaiki pola komunikasinya. Tetapi sadar segala sesuatu harus dimulai dari diri sendiri dahulu, maka saya berinisiatif sayalah yang harus berubah terlebih dahulu.
day 2:
Sekarang hari sabtu. Hati mulai terasa mendongkol bila mengingat hari sabtu biasanya hari berkumpul keluarga. Seharusnya... Tapi tidak bagi keluargaku. Dongkol karena suami selalu harus pergi berniaga di hari-hari yang seharusnya menjadi hari spesial keluarga. Aku yang biasanya pasti akan langsung mengeluarkan kata-kata tajam hanya untuk sekedar menarik perhatiannya.
Tapi kali ini lain...
Menarik napas mencoba menghilangkan rasa dongkol.
"pah.. hari ini hari sabtu kan? tanyaku dengan intonasi lembut. Mamih ada acara nih di taman balaikota. Tanpa ada intonasi mengajak ataupun menyalahkan suami karena kesibukannya. Berusaha mempertahankan mimik wajah agar tidak terlihat jutek. Memperlihatkan senyum terbaik (menurutku).
wah wah ada apa niih? tanyanya sambil senyum-senyum. Tumben ga bawel mih hehe...
Melihat peluang bagus akhirnya langsung mengungkapkan maksud hati deh
"mau dong kumpul-kumpul main bareng sekeluarga pah! ajakku tak kentara
Rupanya beliau ini sudah menangkap maksudku dari tadi.
Masih dengan senyum-senyum simpul.
Oke deeeh.. mumpung masih awal puasa nih kita sekalian aja bukber diluar yah mih.. ucapnya riang.
woow.. sang workholic mau diajak refreshing?
Tanpa mengeluarkan banyak kata hanya satu pelukan saja untuk suami tercinta.
Ternyata tanpa banyak kata yang percuma. Tanpa harus memasang mimik jutek hanya untuk menarik perhatian. Maksud yang diinginkan akhirnya bisa tersampaikan dengan baik. Hanya dengan intonasi yang benar, dengan gerak tubuh yang wajar dan sedikit kata-katapun ternyata maksud kita bisa tersampaikan dengan baik.
#level1
#day2
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Akhirnya komunikasi satu arah ini menjadi pintu awal dari perselisihan. Akan selalu menjadi seperti ini bila tidak ada niat dari semua pihak untuk memperbaiki pola komunikasinya. Saya menyadari benar pola komunikasi diri sendiri harus segera diperbaiki. Mulai dari intonasi yang diperhalus dan mimik wajah yang diperlembut. Sewajarnya bila sayapun menginginkan pasangan untuk belajar bersama memperbaiki pola komunikasinya. Tetapi sadar segala sesuatu harus dimulai dari diri sendiri dahulu, maka saya berinisiatif sayalah yang harus berubah terlebih dahulu.
day 2:
Sekarang hari sabtu. Hati mulai terasa mendongkol bila mengingat hari sabtu biasanya hari berkumpul keluarga. Seharusnya... Tapi tidak bagi keluargaku. Dongkol karena suami selalu harus pergi berniaga di hari-hari yang seharusnya menjadi hari spesial keluarga. Aku yang biasanya pasti akan langsung mengeluarkan kata-kata tajam hanya untuk sekedar menarik perhatiannya.
Tapi kali ini lain...
Menarik napas mencoba menghilangkan rasa dongkol.
"pah.. hari ini hari sabtu kan? tanyaku dengan intonasi lembut. Mamih ada acara nih di taman balaikota. Tanpa ada intonasi mengajak ataupun menyalahkan suami karena kesibukannya. Berusaha mempertahankan mimik wajah agar tidak terlihat jutek. Memperlihatkan senyum terbaik (menurutku).
wah wah ada apa niih? tanyanya sambil senyum-senyum. Tumben ga bawel mih hehe...
Melihat peluang bagus akhirnya langsung mengungkapkan maksud hati deh
"mau dong kumpul-kumpul main bareng sekeluarga pah! ajakku tak kentara
Rupanya beliau ini sudah menangkap maksudku dari tadi.
Masih dengan senyum-senyum simpul.
Oke deeeh.. mumpung masih awal puasa nih kita sekalian aja bukber diluar yah mih.. ucapnya riang.
woow.. sang workholic mau diajak refreshing?
Tanpa mengeluarkan banyak kata hanya satu pelukan saja untuk suami tercinta.
Ternyata tanpa banyak kata yang percuma. Tanpa harus memasang mimik jutek hanya untuk menarik perhatian. Maksud yang diinginkan akhirnya bisa tersampaikan dengan baik. Hanya dengan intonasi yang benar, dengan gerak tubuh yang wajar dan sedikit kata-katapun ternyata maksud kita bisa tersampaikan dengan baik.
#level1
#day2
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Kamis, 01 Juni 2017
Komunikasi Keluarga
Saya sangat menyadari jikalau pola komunikasi saya pribadi sangatlah perlu diperbaiki. Sering sekali melihat respon dari lawan bicara yang tidak diharapkan pada saat berkomunikasi. Kadang berpikir apa intonasi saya kurang tepat atau mungkin terkesan menggurui atau mungkin terdengar seperti menyombongkan diri? Padahal sebenarnya maksud saya jauh sekali dari hal-hal tersebut.
Menyedihkan ketika berbicara dengan pasangan tapi yang didapat akhirnya hanya salah paham. Sering saya lihat beliau seperti terkesan digurui padahal maksud saya jauh dari hal itu. Menyadari kelemahan dalam berkomunikasi ini saya sangat bergembira hati ketika mendapat materi pertama kelas bunda sayang tentang komunikasi produktif. Ternyata yang pertama kali harus saya lakukan adalah memperbaiki pola komunikasi pada diri yang cenderung telah mengakar.
Ketika membaca materi yang ada saya simpulkan semuanya berkaitan dan harus dipelajari. Tapi karena harus memilih salah satu poin saja, akhirnya jatuh pilihan pada kaidah 7-38-55. Seperti yang disampaikan Albert Mehrabian bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap, aspek verbal itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi. Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).
Menjawab tantangan 10 hari dari kelas bunsay:
Hampir menyerah karena hampir selalu nol persen timbal baliknya ketika aku mencoba untuk mengungkapkan perasaan ini pada suami. Rasanya sulit menarik romantisme dari dirinya yang memang tidak romantis. Sekedar kecupan di kening yang tanpa sadar seperti telah beratus tahun hilang dari kebiasaan. Sepertinya muntahan alphabeth dari kelopak bibir ini tak membuatnya bergeming. Putus asa? yah hampir saja... padahal mempertahankan keromantisan itu sangatlah berarti dalam berumah tangga.
Tergelitik tantangan kelas bunsay, berusaha intropeksi diri, berusaha menahan emosi, dan berusaha memanjangkan nalar, dan... action!
apa senyum-senyum? tanyanya sembari menyelempangkan tas, pertanda dia akan segera beranjak mencari nafkah. Menggeleng geli aku dekati dia dengan sedikit malu-malu. Duuh, ternyata aku sudah terlalu lama tidak bersikap manis padanya, berujar batinku.
hmm.. papah.., kuhampiri beliau dengan tingkah manja. Senyum mesra mengembang di wajahku. Kupandang matanya lekat-lekat, dan kupeluk dia eraaat sekali. Satu menit saja.
Kupandang lagi matanya, nah papah.. ini materi pertama kelas bunda sayang, ucapku dengan malu-malu. Kupeluk lagi dia dengan eraaat sekali. Satu menit saja.
Dan...
Gunung es itu mencair begitu saja. Tiba-tiba dia meraihku, dan tiga kecupan untukku itu kembali. Ajaib.. tidak hanya tiga, dia mengulangi untuk yang kedua kalinya lagi. Wah.. tanpa berbawel ria minta diperhatikan, tanpa merajuk, tanpa cemberut, dan tring sim salabim keajaiban itu muncul. Sedikit terpana, tapi ternyata nyata.
Yah kaidah 7-38-55 telah menunjukkan keajaibannya yang pertama. Ketika aku menyetop kata-kata yang tidak perlu, dan melatih berintonasi, dan mempraktekkan bahasa tubuh. Dan inilah kemajuan pertamaku dalam berkomunikasi dengan pasangan😊.
#level1
#day1
#tantangan 10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Menyedihkan ketika berbicara dengan pasangan tapi yang didapat akhirnya hanya salah paham. Sering saya lihat beliau seperti terkesan digurui padahal maksud saya jauh dari hal itu. Menyadari kelemahan dalam berkomunikasi ini saya sangat bergembira hati ketika mendapat materi pertama kelas bunda sayang tentang komunikasi produktif. Ternyata yang pertama kali harus saya lakukan adalah memperbaiki pola komunikasi pada diri yang cenderung telah mengakar.
Ketika membaca materi yang ada saya simpulkan semuanya berkaitan dan harus dipelajari. Tapi karena harus memilih salah satu poin saja, akhirnya jatuh pilihan pada kaidah 7-38-55. Seperti yang disampaikan Albert Mehrabian bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap, aspek verbal itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi. Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).
Menjawab tantangan 10 hari dari kelas bunsay:
Hampir menyerah karena hampir selalu nol persen timbal baliknya ketika aku mencoba untuk mengungkapkan perasaan ini pada suami. Rasanya sulit menarik romantisme dari dirinya yang memang tidak romantis. Sekedar kecupan di kening yang tanpa sadar seperti telah beratus tahun hilang dari kebiasaan. Sepertinya muntahan alphabeth dari kelopak bibir ini tak membuatnya bergeming. Putus asa? yah hampir saja... padahal mempertahankan keromantisan itu sangatlah berarti dalam berumah tangga.
Tergelitik tantangan kelas bunsay, berusaha intropeksi diri, berusaha menahan emosi, dan berusaha memanjangkan nalar, dan... action!
apa senyum-senyum? tanyanya sembari menyelempangkan tas, pertanda dia akan segera beranjak mencari nafkah. Menggeleng geli aku dekati dia dengan sedikit malu-malu. Duuh, ternyata aku sudah terlalu lama tidak bersikap manis padanya, berujar batinku.
hmm.. papah.., kuhampiri beliau dengan tingkah manja. Senyum mesra mengembang di wajahku. Kupandang matanya lekat-lekat, dan kupeluk dia eraaat sekali. Satu menit saja.
Kupandang lagi matanya, nah papah.. ini materi pertama kelas bunda sayang, ucapku dengan malu-malu. Kupeluk lagi dia dengan eraaat sekali. Satu menit saja.
Dan...
Gunung es itu mencair begitu saja. Tiba-tiba dia meraihku, dan tiga kecupan untukku itu kembali. Ajaib.. tidak hanya tiga, dia mengulangi untuk yang kedua kalinya lagi. Wah.. tanpa berbawel ria minta diperhatikan, tanpa merajuk, tanpa cemberut, dan tring sim salabim keajaiban itu muncul. Sedikit terpana, tapi ternyata nyata.
Yah kaidah 7-38-55 telah menunjukkan keajaibannya yang pertama. Ketika aku menyetop kata-kata yang tidak perlu, dan melatih berintonasi, dan mempraktekkan bahasa tubuh. Dan inilah kemajuan pertamaku dalam berkomunikasi dengan pasangan😊.
#level1
#day1
#tantangan 10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Langganan:
Postingan (Atom)