Minggu, 07 April 2019

Mandiri Dengan Berbagi


            Siapa sih, yang tidak takut menjadi single mom? Saya pun sampai sekarang masih saja belum terbiasa dengan predikat baru yang harus disandang ini. Menjadi orang tua tunggal dan harus menghidupi anak-anak, sepertinya, masih menjadi hal menakutkan bagi para wanita. Hal itu terjadi pada diri sendiri. Tiba-tiba saja semua berpindah ke pundak yang lemah ini, dan saya harus pura-pura kuat menanggung semuanya.

            Tidak ada yang salah menjadi single mom. Yang salah adalah cara kita menghadapi masalah yang diakibatkan predikat ini. Ketidakmandirian ibu rumah tangga, selalu jadi pemicu awal ketika tiba-tiba menjadi sendiri. Ketika, biasanya segala sesuatu disuplai oleh pasangan, lalu, secepat kilat perubahan terjadi pada saat si wanita harus menjadi penyuplai. Gelagapan pastinya, kalau si wanita benar-benar polos tidak ada pengalaman mendulang uang sebelumnya, dan itu menakutkan. Seperti itulah, yang terjadi pada diriku, pada keluarga kami. Semua jadi kacau, ketika sebuah perpisahan tidak dapat dihindarkan lagi.

Minggu, 31 Maret 2019

Kisah Nyata Seorang Jurnalis

Awalnya aku pikir ini film biasa, ternyata, di luar ekspetasiku ini film yang sama sekali tidak biasa. Alur film The escaping madhouse benar-benar menyedotku, dan menjadikannya cerita yang aku masukkan kategori luar biasa.

Senin, 25 Februari 2019

Nibiru-Masa Kehancuran


Menulis bagiku adalah sebuah perjalanan. Dimulai dari masa kanak-kanak  yang penuh imajinasi, ruang-ruang khayal selalu dipenuhi petualangan. Setiap hari adalah awal dari perjalanan baru seorang anak  yang memiliki daya khayal tinggi. Aku adalah  seorang putri kerajaan, seorang detektif, bahkan seorang penyihir. Tiap detik nafas adalah penjabaran  dari petualangan yang tertera di pikiran. Dan aku akan tetap hidup di dalamnya, bersama setiap aksaranya, berkelana di ruang imaji tanpa tepi.

Seiring waktu puisi-puisi di lembaran akhir buku mulai berubah abu-abu. Bahkan penaku mulai mengering tetesannya digerus tamparan kehidupan dari  tahun ke tahun. Dan menulis pun terlupakan, setimpal dengan pengaruhnya pada kesehatan psikisku. Tanpa disadari  segala ruang imaji  yang tak terproses menjadi gumpalan di hati dan pikiran. Menyumbat setiap  kesenangan dan  kebebasan.  Akhirnya aku  terbelenggu dalam kehampaan dan sering mencoba berontak—walau tak paham bagaimana caranya.

Angka 40 dan Lutut

Bahagia kalau lutut bisa sekuat ini


        Ugh! nyeri rasanya ketika tulang lutut menopang badan yang naik ke atas bus. Padahal saya selalu berusaha mengurangi beban lutut dengan mengangkat badan dan bertumpu pada kedua lengan. Pernah  mengalami hal serupa tidak? Jujur, momen naik ke bus jadi salah satu biang keladi stres saya. Memang dilema setiap naik bus yang tangga otomatnya rusak. Bahkan tidak disangkal lagi kalau saya jadi sering menyalahkan pelayanan bus yang buruk. Padahal bisa saja mereka belum sempat mereparasi tangga otomat yang rusak itu.

           Walau begitu, demi pelayanan optimal pada penumpang tidak ada salahnya pihak penyedia transportasi  bus mengecek kondisi kendaraan secara berkala. Saya yakin tangga otomat ini sangat penting bagi beberapa golongan penumpang (termasuk saya). Bisa dibayangkan tidak seorang nenek yang mencoba naik bus tanpa tangga ini? Atau (maaf) yang kebetulan kakinya cacat? Duh, saya saja yang kebetulan setengah manula (eh?) dan lutut setengah sehat-kewalahan naik bus tanpa tangga itu.