Rincik
langit tumpah basahi trotoar
Bulirannya
menjelma bayang serupa tampias di tepi kain
Melompatlompat
ukirkan pendar genangan dalam setiap jejak jalanan
Meracik
angin yang terabasi tubuhnya; bergumul riuh layaknya hujan rimba
Air—angin
bergelung membungkus tubuh dalam gigil penuh dingin;
Dan
aku tetap dalam sebuah tanya tentang cinta yang terjeda jarak
“Hujan Sore”, karya Yola Widya
Bandung, 081218
Setelah membaca syair di atas pasti bertanya-tanya,
“Kenapa ada kata ulang yang tidak memakai tanda hubung?” jawabannya simpel
saja, karena tanda baca tidak mutlak dalam puisi. Itu yang saya dapat dari
hasil mengembara di antara penyair. Jangan lupa, puisi diberi judul dan nama
penyairnya. Titimangsa juga jangan sampai tertinggal. Titimangsa berisi tempat
dan tanggal pembuatan.
Eh, jangan salah tanggap dulu! Saya tidak membahas
tentang puisi di sini walau temanya sama tentang ‘Hujan’. Itu hanya sekadar
intermezzo, buah dari kebingungan saya tentang tema ini. Jujur ada banyak
cerita tentang hujan yang bisa ditulis, tapi kenapa kok malah bingung sendiri.
Mungkin terlalu mencari-cari hal yang berbeda dan unik. Ah, entahlah....
Ada
apa dengan hujan?
Satu
yang saya ingat tentang hujan dinginnya
mengalihkan semua luka, dan itu kenyataan bukan kutipan. Pada dasarnya
hujan adalah berkah dari Yang Maha Kuasa dan bukan tanpa sebab benda cair ini
ditumpahkan ke bumi. Karena air seyogyanya merupakan sumber dari segala sumber
kehidupan. Hujan yang dicurahkan langit membawa banyak manfaat bagi kehidupan.
Dengannya semua makhluk di bumi tumbuh dan hidup.
Air hujan memiliki kadar kenetralan PH yang hampir
sempurna, jadi bisa dikatakan murni. Keren bukan? Bisa dibayangkan betapa besarnya
manfaat air ini bagi kita. Bahkan sebelum hunting
artikel-artikel tentang hujan, saya pribadi sudah sangat mengagumi ciptaan
Tuhan ini. Entah kenapa disaat mandi air ini tubuh terasa segar, bahkan
beberapa kali pernah meminumnya tanpa dimasak. Awalnya sih karena percaya
sesuatu yang murni pasti membawa zat-zat kebaikan di dalamnya.
Apa
yang Kau ingat tentang hujan?
Hujan sering menyelamatkan saya. Ini bukan dusta loh!
Saat musim kemarau ketika air menjadi lebih bernilai dari emas, hujanlah yang
menjadi harapan di keluarga kami sebagai penyuplai. Jadi bukan hal yang aneh,
ketika hujan datang teras rumah dipenuhi oleh ember-ember yang menampung
airnya. Awalnya saya tidak paham kenapa mandi dengannya badan terasa segar
sekali. Ternyata itu akibat PH airnya sendiri yang bebas garam dan mineral,
sehingga baik untuk kesehatan kulit dan rambut.
Yang lebih absurd lagi saya sering sekali mandi air hujan
ketika kepala terasa berat. Airnya yang terasa sangat dingin di otak. Setiap
rinciknya seolah menekan saraf di kepala untuk mengendurkan tegangan. Ternyata
hujan memang digunakan untuk terapi stres. Diyakini tiap tetesannya di curah
yang lebat sebagai terapi kejut pada saraf di jaringan kulit kita. Ketika kita
mandi hujan, ribuan saraf akan
dikejutkan oleh tetesannya. Tapi jangan lama-lama yah, nanti malah masuk angin
kitanya.
Nah, kalau yang satu ini awalnya saya tidak percaya sama
sekali. Kata orang-orang minum air hujan bisa membuat hamil. Wah, bagaimana
caranya? Saya malah berasumsi kalau terapi hujan yang cenderung berhasil
membuat wanita jadi subur. Karena kebanyakan wanita sulit hamil akibat stres
yang dideritanya. Dan itu yang terjadi pada saya. Dokter mengatakan tingkat
rutinitas yang tinggi telah menyebabkan tubuh dan pikiran saya lelah. Bahkan demi
segera mendapat momongan saya sampai rela mandi di tengah hujan lebat berpetir
sekalipun [jangan ditiru].
Ternyata dalam air hujan ada nitrogen yang dibutuhkan
oleh zat-zat yang ada dalam tubuh kita. Dan pembentukan zat yang dibantu oleh
kandungan nitrogen dalam hujan sangat memengaruhi pertumbuhan hormon. Nah, si
hormon ini yang mempunyai peranan penting dalam tingkat kesuburan. Selain itu, berperan juga untuk pertumbuhan otak dan kekebalan tubuh kita. Kalau
berdasarkan hal itu sih, jadi bisa dipahami kenapa minum air hujan bisa membuat
subur wanita.
Hal-hal di atas berdasarkan pengalaman pribadi saya. Jadi
kalau teman-teman ingin mencoba, kalau boleh saya sarankan tunggu hingga air
hujan tercurah agak lama dulu. Alasannya simpel, karena itu kebiasaan saya.
Kalau membuka keran air pun selalu menunggu beberapa menit dahulu mengalir
sebelum akhirnya ditampung. Saya sendiri akan mulai rutin minum airnya karena
ternyata ada kebaikan untuk otak dan kekebalan tubuh.
Jadi
hujan itu apa?
Jika
bertanya itu dan mengharapkan jawaban yang ilmiah dari saya, maka kalian akan
kecewa. Karena hujan adalah zat purba
yang membawa kehidupan ke bumi dan menyertai selama perjalanannya di dunia
belum berakhir. Dan hujan mungil yang terbawa angin di Kota Kembang akan
selalu jadi favorit saya seumur hidup.
Lalu
ia masuki pori kenangan dengan kemurnian
Perlahan
menghapus tiap serpih retak
Beningnya
tiadakan noktahnoktah
Menyulam ribuan hampa melalui warna pelangi yang dicurinya
Hingga gemericik
nyanyikan ribuan rona melantun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar