Minggu, 12 November 2023

Tak Seperti Yang Lalu

 Tak Seperti Yang Lalu




Tak seperti pertama bersua

Tak ada curiga

Tak ada prasangka

Masih penuh cinta


Kini amarah sering menggoda

Cemburu berkeliaran di dada

Benci menyusupi

Rindu pun tertutupi


Seperti apa kita?

Kata-kata jadi umpatan Rahwana

Pelukan tak pernah ada

Hanya kita yang berbeda


Tak seperti yang lalu,

Berjuta rindu akanmu menyesaki

Dahaga akan dirimu waktu itu

Tak bisakah kau kembali?




Kamis, 15 Juni 2023

Benarkah Kusta Penyakit Kutukan?

 Benarkah Kusta Penyakit Kutukan?




Live streaming tentang kusta kembali diadakan di channel Youtube Ruang Publik KBR pada Rabu 14 Juni 2023 kemarin. Acara kali ini bertajuk "Gaung Kusta Bersama Babinsa dan PKK" yang dihadiri narasumber Kapten Inf Shokib Setiadi dan Ibu Elly Novita, S.KM, MM. Streaming kali ini mengulas tentang acara roadshow ke Slawi, Tegal. Dimana Roadshow ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit kusta.

Sebagai upaya mewujudkan suara Indonesia bebas dari kusta, pada tanggal 1 Juni 2023 lalu, Ruang Publik KBR menyelenggarakan acara edukasi kusta. Acara ini merupakan proyek Ruang Publik KBR bersama Babinsa dan PKK. Bertujuan membuka ruang dan jaringan masyarakat, diharapkan acara ini dapat meningkatkan awareness terhadap penyakit kusta.

Benarkah Kusta Penyakit Kutukan?

Seperti diketahui, Bintara Pembina Desa merupakan perwakilan militer yang tugasnya menjalin hubungan dengan masyarakat di tingkat desa atau kelurahan. Sedangkan PKK sendiri merupakan organisasi masyarakat yang memberdayakan wanita. Karena kedekatan langsung pada anggota masyarakat kedua kelompok ini digandeng untuk melakukan edukasi mengenai penyakit kusta. Diharapkan edukasi tentang kusta ini tepat mengenai sasaran serta dapat menghilangkan stigma masyarakat.

Target pemerintah sendiri hanya 1 penderita kusta saja dari 1 juta penduduk. Kenyataannya jumlah penderita kusta lebih banyak dari angka target tersebut. Sedangkan penyakit kusta mudah menular apabila tidak segera ditangani. Karena itu sosialiasi serta edukasi ini diperlukan sebagai jalan untuk membuka wacana masyarakat tentang kusta. Sehingga mereka paham tentang gejala dari penyakit ini, cara pencegahan, sekaligus cara mengobatinya.

Ibu Elly mengutarakan tantangan terberat edukasi tentang kusta ini adalah menghilangkan stigma masyarakat. Kusta dianggap sebagai penyakit kutukan. Karenanya penderita kusta di Tegal ini menganggap dirinya terkena kutukan. Sehingga mereka malu dan tidak ada semangat untuk berobat. Demikian pula stigma orang-orang disekitarnya. Jadinya penderita kusta malah dihindari dan dikucilkan. Karena itu sangat penting untuk menghilangkan anggapan kusta itu penyakit kutukan dan menakutkan.

Edukasi Mengenai Kusta Bersama Babinsa dan PKK

Roadshow di Tegal kemarin dikemas dengan cara berbeda. Edukasi dan sosialisasi mengenai kusta ini disampaikan dalam suasana bergembira dan menyenangkan seperti senam bersama. Pada acara kemarin juga dibagikan buku panduan tentang kusta. Bapak Shokib mengutarakan bahwa edukasi dalam suasana bahagia memang perlu. Selain memudahkan otak untuk menyerap materi, edukasi dengan cara ini dapat membantu menghilangkan stigma kusta sebagai penyakit yang menakutkan. Kesan selama mengikuti roadshow kemarin menjadi pembelajaran utama bagi Babinsa untuk menyampaikan edukasi dengan metoda seperti apa.

Bapak Shokib juga berharap agar para pamong desa yang diundang dapat membantu edukasi tentang kusta ini di desa-desa. Selain itu beliau juga berharap pemerintah tetap mengawal selain sinergisitas antara masyarakat dan komunitas. Babinsa menindaklanjuti hasil roadshow kemarin dengan cara menyamakan persepsi agar segera dapat dilakukan sosialisasi di tiap koramil di desa-desa. Selain itu Babinsa juga bekerjasama dengan nakes, RT/RW, PKK, Pos Yandu dan masyarakat agar edukasi tentang kusta ini segera menyebar.

Ibu Elly terkesan dengan kemasan acara roadshow kemarin. Beliau mendapatkan banyak ilmu mengenai kusta, mengetahui ciri-ciri yang terkena kusta sekaligus cara deteksi awal, jadi tahu cara mencegah dan mengobati anggota keluarga juga. Kusta merupakan penyakit yang tidak langsung menular. Karena itu tidak perlu ada diskriminasi pada penderita kusta karena proses penularannya lama dan dapat dicegah.

Beliau mengutarakan kendala terbesar edukasi pada ibu-ibu adalah menghilangkan stigma kusta adalah penyakit kutukan. Selain itu ibu-ibu mudah terpengaruh berita hoaks, seperti kusta itu penyakit menular. Begitu menempel atau kontak langsung dengan penderita kusta pasti langsung tertular. Anggapan seperti ini yang harus dihilangkan. Ibu Elly mengatakan belum ada evaluasi khusus dari PKK sejauh mana masyarakat bisa menerima edukasi tentang kusta ini.

Ibu Elly mengutarakan PKK sendiri biasanya digandeng. Namun PKK akan menyusun rencana sendiri untuk menyebarkan hasil roadshow kemarin dan masalah kusta ini akan dimasukkan ke dalam program kerja. Pendekatan PKK akan melibatkan tokoh agama, masyarakat, serta kelompok pemuda untuk menyebarkan edukasi tentang kusta.


Upaya menggandeng Babinsa dan PKK ini merupakan langkah yang tepat. Karena kedua kelompok ini bersinggungan langsung dengan masyarakat. Keterlibatan para ibu dalam upaya penyebaran edukasi tentang kusta ini juga dapat dimulai dari keluarga sendiri. Jika kelompok terkecil yaitu keluarga dapat teredukasi dengan baik, maka diharapkan dapat membuka wawasan tentang kusta pada kelompok lebih besar yaitu masyarakat umum. Sehingga pada akhirnya stigma tentang kusta sebagai penyakit kutukan dapat dihilangkan.


Live streaming Youtube Ruang Publik KBR







Kamis, 16 Maret 2023

5 Tantangan Jadi Blogger : BloggerDay 2023 Bersama Bloggercrony

 

5 Tantangan Jadi Blogger : BloggerDay 2023 Bersama Bloggercrony



Saya masih tidak mengira ketidaksengajaan di awal jadi berbuah manis seperti sekarang ini. Awalnya hanya iseng mencari grup di sebuah platform media sosial agar banyak teman. Eh, ternyata grup tersebut merupakan salah satu komunitas blogger Indonesia. Pertama kali bergabung yang saya tahu grup tersebut hanya untuk share tulisan di blog saja.

Ternyata saya terkecoh, terlebih lagi setelah saya sadari ada pendataan anggota dan ada kegiatan grup berkala. Ternyata Bloggercrony itu sebuah komunitas. Tempat para blogger saling berbagi sekaligus upgrade diri. Dan saya senang terjebak di komunitas ini, karena memang butuh tempat untuk berkembang juga berteman.

Komunitas Bloggercrony dan BloggerDay 2023

“Komunitas Bloggercrony memfasilitasi blogger Indonesia mengembangkan kualitas dirinya, membangun jejaring positif, meningkatkan produktivitas dengan menciptakan tulisan/konten yang informatif, bermanfaat dan inspiratif, serta berdaya mandiri dan profesional.”

Tanggal 24 Februari kemarin Bloggercrony kembali mengadakan BloggerDay. Kegiatan tahunan ini diselenggarakan untuk merayakan hari jadi Bloggercrony. Untuk tahun ini BloggerDay diadakan secara hybrid. Acara diawali dengan kick off  kegiatan zoom dari Rumah Sehat Internet yang dihadiri 100 peserta terpilih pada 24 Februari 2023. Kemudian dilanjutkan dengan campsite di Puncak Halimun Bogor pada 4-5 Maret 2023.



Perayaan Bloggerday kali ini mengangkat tema skill set up. Founder Bloggercrony, Mba Wardah Fajri menyatakan dalam sambutannya bahwa tema skill set up dipilih karena BCC ingin mendekatkan diri dengan Blogger. Bahwa Bloggercrony merupakan pendamping sekaligus fasilitator para anggotanya untuk menumbuhkan kesadaran akan potensi diri yang dapat dikembangkan menjadi skill set andalan masing-masing blogger.

Bloggerday kali ini pun turut menghadirkan Anwari Natari selaku pengawas komunitasBloggercrony Indonesia. Anwari Natari mengingatkan agar para blogger selalu menjunjung tinggi knowledge, skill, dan attitude.

Serunya Acara Kick Off BloggerDay 2023

Ini kali pertama saya mengikuti acara Bloggerday, dan ternyata seru sekali. Apalagi pembawa acaranya Putri Zhea yang terkenal kocak dan ceplas ceplos. Acara diawali pembacaan doa, lalu kata sambutan dari founder dan dari ketua Bloggercrony Kak Bowo Susilo. Dilanjutkan pula dengan pengenalan para pengurus komunitas. Saya baru sadar kalau kurang informasi tentang komunitas ini, jadinya bersyukur bisa mengikuti acara perayaan hari jadinya di tahun ini.

Acara kick off juga bertabur hadiah. Dimulai dari peserta tercepat yang masuk ke ruang zoom. Kemudian ada kuis, lucky wheel, lucky draw, testimoni, dan hadiah untuk yang mengisi survey. Ada blog competition juga yang wajib diikuti oleh para peserta. 

Fun Camp Di Puncak Halimun

Acara puncak Bloggerday 2023 diadakan di Puncak Halimun, Bogor. Fun Camp berlangsung pada tanggal 4-5 Maret selama 2 hari 1 malam. Fun camp berlangsung santai dengan diawali makan siang. Kemudian berlanjut dengan Saling Dengar Suara bersama pengawas BCC, Anwari Natari.



10 blogger mengungkapkan berbagai harapan, tantangan, juga kegelisahan yang mewakili peserta lainnya. Berbagai lomba juga ikut memeriahkan Fun Camp kali ini. Sebelumnya ada acara api unggun di malam harinya. Fun Camp ditutup dengan bagi-bagi hadiah dan foto bersama.

5 Tantangan Menjadi Blogger

Jadi blogger itu tidak mudah. Hal ini saya rasakan betul setelah coba-coba menuliskan segala sesuatu di blog. Awalnya yang hanya berupa tulisan curahan hati tanpa konsep, kini harus mulai belajar menata topik bahasan yang akan diangkat. Saya yang biasanya menulis berdasarkan insting tanpa outline, sekarang harus belajar menata topik tulisan. Karena blog itu dibaca banyak orang, dan tentunya mereka menginginkan tulisan yang informatif. Disinilah saya merasakan tantangan menjadi blogger itu sangat banyak, seperti halnya berikut ini :

  • Masih kurangnya ilmu tentang cara merawat blog
  • Seringkali masih gagap teknologi
  • Konsistensi yang kurang, masih sering malas untuk update blog
  • Teman sesama blogger masih kurang banyak, padahal sangat penting untuk bertukar ilmu
  • Ide yang sering mandeg, apabila bahasan yang diangkat tidak sesuai selera seringkali jadi malas menulis

Disinilah saya makin menyadari arti pentingnya sebuah komunitas. Wadah yang memfasilitasi para blogger untuk menambah ilmu, upgrade diri, sekaligus memperbanyak teman. Dalam komunitas, visi misi kita akan menjadi semakin jelas karena ada yang membersamai. Adanya komunitas Bloggercrony ini sudah seharusnya dimanfaatkan sebaik mungkin oleh para anggotanya. Salah satu caranya dengan mengikuti acara tahunan Bloggerday ini.

Semoga Bloggercrony dapat menjembatani berbagai masalah dan kegelisahan yang dihadapi para blogger. Dan untuk selanjutnya melangkah bersama untuk tumbuh lebih kuat dan hebat. Cek keseruan Bloggerday 2023 di Instagram @bloggercrony, selamat hari jadi ke-8 Bloggercrony!



Sumber gambar : Instagram @bloggercrony


Jumat, 01 Juli 2022

5 Fakta Penderita Kusta dan OYPMK Sulit Diterima Masyarakat

 

5 Fakta Penderita Kusta dan OYPMK Sulit Diterima Masyarakat

 


Hari Kamis, 30 Juni 2022 saya mengikuti live streaming dengan topik yang menarik di channel Berita KBR. Mengambil tajuk “Rehabilitasi Sosial Yang Terintegrasi Untuk OYPMK & Disabilitas Siap Bekerja”, membuat mata saya jadi makin terbuka tentang penyakit kusta dan segala permasalahan yang mengikutinya.

Informasi dan fakta terkait masalah yang ada di sekitar penyandang disabilitas dan OYPMK dari para nara sumber Ibu Sumiatun S.Sos, M.Si dan Mbak Tety Sianipar, sangat mengkhawatirkan dan mencengangkan. Ternyata kusta benar-benar mendapat stigma buruk dari masyarakat dan butuh waktu untuk menghilangkannya. Harus ada edukasi menyeluruh agar mereka paham tentang penyakit ini, hingga berhenti melakukan tindakan pengucilan terhadap penyandang disabilitas dan OYPMK (Orang Yang Pernah Menderita Kusta).

 

5 Fakta Penyandang Disabilitas dan OYPMK Sulit Diterima

Adalah kenyataan apabila kusta memang didoktrin penyakit yang mengerikan oleh masyarakat. Meskipun penyandang kusta telah dinyatakan sembuh oleh dokter, tetap saja masyarakat sulit menerima keberadaannya di lingkungan mereka. Masih banyak yang menganggap kusta penyakit menakutkan yang tak bisa sembuh. Rata-rata mereka sulit menerima penyandang disabilitas dan OYPMK karena alasan berikut ini;

 

Kusta penyakit menular yang tidak menular, disebut seperti ini karena penularan kusta memang tidak instan, tapi butuh waktu yang cukup lama. Bahkan cenderung tidak terlihat penularannya dan gejalanya sering diabaikan. Hal ini yang membuat masyarakat takut dan curiga terhadap penyandang disabilitas juga OYPMK.

Cacat pada penderita kusta menakutkan, luka bekas kusta memang tampak mengerikan dan meninggalkan bekas yang permanen pada bagian tubuh yang terkena penyakit. Kebanyakan orang pasti takut dan tidak ingin kontak dengan penyandang kusta walaupun sudah dinyatakan sembuh.

Kusta dianggap penyakit yang tidak bisa sembuh, karena bekas luka permanen yang tampak itu banyak orang berkeyakinan kalau kusta tidak bisa sembuh. Mereka takut kalau kontak dengan OYPMK akan tertular kusta juga.

Dianggap tidak memiliki kemampuan untuk bekerja, mereka yang telah sembuh dari kusta diyakini oleh masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk berkarya meskipun telah mendapat pelatihan tentang pekerjaan.

Ditakutkan jadi beban, mirisnya mereka juga dianggap bakal jadi beban, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun pekerjaan. Karena diawalnya memang kemampuan bekerja dan berkaryanya telah diragukan.

 

Tantangan Terbesar OYPMK dan Penyandang Disabilitas

Memang menyedihkan stigma terhadap penyandang disabilitas dan OYPMK tersebut. Namun apa mau dikata, karena masih banyak anggota masyarakat yang belum mendapatkan edukasi menyeluruh tentang kusta. OYPMK dan penyandang disabilitas hingga saat ini tetap kesulitan untuk berbaur kembali di lingkungan masyarakat. Berbagai stigma negatif seolah mengurung mereka dalam lingkaran diskriminasi sebagai akibat dari Leprofobia (ketakutan berlebihan pada penderita kusta).

Seperti yang dijelaskan oleh para nara sumber pada acara live streaming, dampak dari diskriminasi tersebut terasa sekali dalam bidang pekerjaan. OYPMK dan penyandang disabilitas kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Bahkan setelah mereka melalui proses rehabilitasi dan pelatihan kesiapan untuk bekerja sekalipun.

Diskriminasi menyebabkan penyandang disabilitas dan OYPMK juga kesulitan dalam bersosialisasi dan mengembangkan diri. Terutama pengembangan diri untuk produktif dalam bekerja. Tidak adanya dukungan sosial dari masyarakat juga sulitnya mengakses rehabilitasi sosial membuat proses pembauran sosial mereka jadi terhambat. Hal ini menyulitkan persiapan pelatihan mereka untuk produktif bekerja.

Padahal, seperti pernyataan Ibu Sumiatun S.Sos, M.Si, bahwa Kemensos bidang rehabilitasi sosial, memiliki program ATENSI (asistensi rehabilitas sosial). Di mana program ini memang disediakan untuk memfasilitasi para disabilitas termasuk penyandang dan eks kusta, salah satunya agar bisa produktif bekerja. Hal tersebut merujuk pada 26 hak penyandang disabilitas, yang salah satunya adalah hak terhadap pekerjaan. 

Program rehabilitasi dari Kemensos ini merujuk pada UU No 8 tahun 2016, bahwa Hak habiltasi dan rehabilitasi untuk Penyandang Disabilitas meliputi hak: mendapatkan habilitasi dan rehabilitasi sejak dini secara inklusif sesuai dengan kebutuhan: bebas memilih bentuk rehabilitasi yang akan diikuti: dan mendapatkan habilitasi dan rehabilitasi yang tidak merendahkan martabat manusia.

Kegiatan Rehabilitasi Sosial penyandang disabiliatas ini mencakup poin-poin berikut dan dilaksanakan melalui kantor pusat, Dinas Sosial, serta Unit Pelaksana Teknis.

1. Asistensi Sosial Penyandang Disabilitas Berat (ASPDB)

2. Peningkatan keterampilan parenting skill bagi pendamping dan orang tua penyandang disabilitas berat dan penyandang disabilitas Intelektual

3. Pemantapan pendamping ASPDB

4. Penguatan peran keluarga dan masyarakat dalam Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Rungu Wicara dan rungu wicara untuk kemandirian di masyarakat

5. Unit informasi dan layanan sosial 

6. Pelayanan sosial dalam kedaruratan

Ditambah dengan pernyataan Mbak Tety Sianipar, dimana Kerjabilitas membantu eks kusta dan disabilitas  dalam memfasilitasi mereka agar bisa masuk ke dunia kerja formal. Sayangnya, kemudahan-kemudahan akses tersebut terhambat jalannya akibat stigma masyarakat. Kenyataannya, disabilitas dan eks kusta masih tetap saja kesulitan diterima di tengah masyarakat.

Dari hal di atas dapat disimpulkan apabila masalah disabilitas dan eks kusta ini merupakan tanggung jawab bersama. Semua pihak harus mau bersinergi agar masalah diskriminasi terhadap disabilitas dan OYPMK dapat ditanggulangi. Sehingga pada akhirnya mereka dapat berbaur kembali di masyarakat dan mendapatkan hak-hak penyandang disabilitas.